1.1.Latar Belakang
Bahan Pustaka adalah subuah peninggalan budaya yang sampai sekarang sangat
dibutuhkan. Bahan pustaka sangat akrab di kehidupan manusia terutama kertas.
Kertas dengan segala tampilannya hampir dapat dikatakan sulit untuk dipisahkan
dari kehidupan manusia. Bahan Pustaka kuno pada umumnya berbentuk bahan tulisan
tangan sehingga Bahan Pustaka memuat cerita yang lebih lengkap dan lebih
panjang dan bersifat anonim serta tidak berangka tahun. Banyak orang yang belum
tahu tentang bahan pustaka misalnaya sejarah bahan pustaka, proses pembuatan,
serta perkembangan penggunaan bahan pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1995: 491), kertas adalah barang lembaran dibuat dari bubur rumput,
jerami, kayu, dan sebagainya, yang biasa ditulisi atau untuk pembungkus, dan
sebagainya.
Bahan pustaka merupakan salah satu asset bangsa yang sangat penting
karena manusia dapat mengetahui sejarah, ilmu pengetahuan dan budaya dari bahan
pustaka. Bahan pustaka mulai dari tanah liat sampai perpustakaan digital.
Beberapa bahan pustaka sudah mulai ditinggalkan karena kemajuan teknologi dan
bahanya sudah sulit serta sulitnya dalam pemakaianya namun bahan pustaka kuno
perlu dipelajari untuk pengembanganya di masa depan berbagai mimpi dimulai dari
bahan pustaka kuno misalnya sebuah sabak yang sekarang menjadi sebuah tablet,
dan hasil kerajinan dari tanaman eceng gondok yang terinspirasi dari pembuatan
kertas papyrus. Pengetahuan tentang bahan pustaka kuno sangat bermanfaaat
terutama dalam pelestarian bahan pustakaya yang perawatanya samapai saat itu
kurang diperhatikan. Oleh karena itu saya akan membahas sebuah makalah yang
berjudul Sejarh bahan pustaka dari sebelum ditemukan sampai sudah ditemukan
kertas
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah bahan pustaka zaman sebelum kertas?
2.
Bagaiman bahan pustaka zaman kertas?
3.
Bagaimana melestarikan bahan pustaka kuno?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui sejarah bahan pustaka zaman sebelum
kertas.
2.
Untuk mengetahui bahan pustaka zaman kertas.
3.
Untuk mengethui cara melestarikan bahan pustaka kuno.
2.1. Sejarah Bahan Pustaka Zaman Pra kertas
Manusia
menghasilkan karyanya sejak dulu dan menyimpanya di berbagai media salahsatunya
berupa tulisan sebagai alat komunikasi dan penyebaran ilmu, mulai dari tanah
liat pada zaman batu sampai era modern.
1. Tanah liat
Tanah liat merupakan medium perekam
informasi yang paling sedrhana dan paling tua dipergunakan. Kira-kira 3000
tahun zaman seblum masehi bangasa sumeria menulis ilmu pengetahuan mauapun
jadwal kegiatan pada lempng tanah liat ini(Lasa HS, 2010). Orang sumeria
menciptakan salah satu sistem penulisan yaitu cunciform sejak sekitar tahun
3200 sm, mereka menulis di atas lempengan yg terbuat dari tanah liat. para juru
tulis memegang peranan kunci di masyarakat. ribuan peninggalan batu tulis
yangditemukan berisi berbagai laporan, tulisan keagamaan maupun surat (anonim,
2006). Waktu masih basah dan
lembek tanah liat bisa ditulis atau diukir dengan mudah, sesudah itu dibakar
atau dipanaskan dengan sinar matahari. Tanah liat yang sudah dibakar hamper
tidak bisa rusak baik oleh pengaruh air, api maupun perubahan temperature.
Tanah liat bisa tahan lama karena mengandung minerl yang disebut kaolin.
Dalam jumlah kecil juga mengandung besi, semen, magnesium, soda dan
potassium. Sejak zaman Assyria tanah liat sudah dipergunakan sebagai media
tulis. Dibentuk bulat pipih seperti tablet kemudian ditulis dengan jarum atau
benda keras yang runcing sewaktu masih lunak. Perpustakaan Alexandria di mesir
terkenal dengan koleksi “tablet tanah liat”(Martoatmojo, 1999).
2. Papyrus
Orang
Mesir kuno menemukn papyrus pada 2000 sebelum masehi. Orang mesir merekatkan
lembaran menjadi gulungan perkamen. tulisan hieroglif bidang admin dan
keagamaan dituliskan dengan tangan( Anonim, 2006). Bahan untuk menulis ini dibuat dari batang papyrus. Untuk membuat kertas papyrus ini bangsa mesir memotong sepanjang
40 cm kemudian dibuka dan diambil intinya. Inti ini disayat tipis-tipis,
kemudian dijajarkan satu sama yang lain sedikit tumpang tindih untuk membuat
lebaran lalu dilumuri lem dan dihimpit sampai lemnya kering kemudian digosok
dengan tulang. Papyrus ditulis dengan
karbon dan tinta “iron oxide” merah
(Martoatmojo, 1999). Ada juga yang megatakan cara pembuatannya adalah
rumput papyrus dipukul-pukul agar rata lalu dikeringkan kemudian ditulisi
dengan pahatan atau tinta. Rumput ini dianggap penting karena serat selulosanya
merupakan landasan kimiawi untuk pembuata kertas zaman moderen ini(Lasa HS,
2010)
3. Kulit kayu(jawa kliko)
Namanya berasal dari bahasa latin “bark” artinya “liber”
buku. Kulit kayu adalah lapisan
terluar batang dan akar tumbuhan berkayu. Dalam istilah teknis, kulit kayu adalah seluruh bagian di luar
jaringan kambium. Kulit kayu menutupi kayu dan terdiri
atas bagian dalam dan luar(Ismi, 2012). Bagian dalam, yang pada batang dewasa
merupakan jaringan hidup, termasuk daerah terdalam periderm. Lapisan luar pada
tangkai tua termasuk jaringan permukaan tangkai yang mati, bersama dengan
bagian-bagian periderm terdalam dan seluruh jaringan di sisi luar periderm.
Lapisan luar pada pohon juga disebut rhitidoma. Bagian dalam kulit kayu yang
melingkari batang biasanya dibuat obat, alat penyama kuli, atau sebagai
pewarna. Pada abad ke-17 dieropa dan amerika menggunakan kulit kaayu ini untuk
surat menyurat. Sampai saat ini masih dipakai di asia tengah dan timur jauh.
Kelemahan bahan pustaka ini cepat rusak jika lembab dan bila terkenal akan
menempel dengan yang lainnya. Buku dan manuskrip kayu diberi pupukan atau
dipiahkan halaman satu ke yang lain agar tidak menempel. Penyimpanannya
dilakukan dengan cara menggulung.
4. Daun tal
Lontar (dari bahasa Jawa: ron tal, "daun tal") adalah daun siwalan atau tal (Borassus flabellifer
atau palmyra)(Ismi, 2012). Tal
adalah sejenis pohon palem yang tumbuh dipatai. Daunnya tebal dan kuat sehingga
tidak rusak ketika ditulis. Banyak naskah jawa ditulis pada daun tal yang
disebut lontar. Orang bugis makasar, bali, sasak, dan Lombok menulis
lontar berisi legenda, riwayat, adat, babat, undang-undang, pedoman pembuatan
rumah maupun catatan tentang obat-obatan. Orang bugis dan makasar melakukan
penulisan pada lontar dimulai abad ke 16 sebelum agama islam dipeluk secara
umum oleh masyarakat di Sulawesi selatan. Orang bali telah melaksanakan upacara
kematian membaca lontar suci yang merupakan petunjuk jalan bagi roh dalm menuju
alam atas. Naskah kuno orng bugis dan makasar umumnya ditulis diatas kertas
menggunakan lidi injuk atau pena dalam aksara lontara. Diantara buku penting
bahkan dianggap keramat oleh orang bugis dan makasar adalah suregaligo(Las HS,
2010). Daun tal dipotong
sepanjang kira-kia 45 cm diraut bagian tepinta ketika masih basah ditulis
dengan jarum. Tulisan bekas jarum tadi diisi dengan minyak kelapa, kemudian
dibersihkan, sehingga goresan atau tulisan tadi dapat dibaca dengan baik bagian
pinggirnya diberi lubang tempat benang atau tali menggabungkan tal yang satu
dengan yang lain sehingga seperti buku. Lontar dikeringkan dan dipakai sebagai
bahan naskah dan kerajinan bahan pustaka ini banayak tedapat di bali.
5. Kayu
Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi (pengayuan). Ilmu perkayuan (dendrologi) mempelajari
berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu serta sifat kimia, fisika, dan
mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan(Ismi, 2012). Kayu digunakan
sebagai bahan pustaka di negeri cina nomor 2 sesudah sutra. Menurut chaucer
buku telah dibuat dari tablet kayu masih dipakai di ingris hingga abad 14.
Batang, cabang, dan akar kayu dipergunakan sebagai alat tulis. Kayu bisa
bertahan lama. Ulat kayu atau rayap sering menyerang kayu ini terutama di
tempat yang lembab agar bahan pustaka ini awet sebaiknya direndam dengan bahan
kimia.
6. Gading
Gading adalah bagian yang terdapat pada rahang
atau mulut gajah, yang memanjang keluar seperti taring
pada babi. Biasanya gajah-gajah diburu orang untuk
mendapatkan gadingnya demi kepentingan komersial dan seni. Gadng adalah tempat untuk menulis yang baik karena sifatnya keras
namun mudah diukir atau ditulis, namun tinta tidak bisa menempel dengan baik
pada gading sehingga tulisan mudah rusak.
7. Tulang
Orang-orang
dinasti shang pada tahun 1300 sebelum masehi menggunakan tulang sebagai tulang
ramalan dimana tulang tersebut berukir pigtagram (tulisan gambar) cina awal.
benda ini digunakan oleh para peramal untuk memprediksikan masa depan(Anonim,
2006). Tulang dipakai sebagai
karya seni, ukiran atau tulisan yang menarik. Zat perekat yang ada pada tulang
bisa dibuat untuk lem. Namun lem dari tulang tidak baik untuk mengelem buku
karena dapat nengundang binatang kecil. Tulang terdiri atas collagen dan garam inorganic seperti
kalsium dam magnesium. Tulang bisa diukir ditulis atau di cat. Bahan ini sangat
awet namun mudah terpengaruh pada suhu.
8. Batu
Di Indonesia awal dari
bahan pustaka batu yaitu sebuah Prasati yang berbentuk yupa dari kerajaan kutai
pada tahun 400 sebelum masehi menggunakan huruf pallawa terdapat juga prasasti
besar paguruyung di bukit garbow tahun 1356 masehi, prasasti ini berisi pujian
terhadap raja aditiawarma(Mohammad, 2006). Batu terbuat dari pasir bercampur dengan
semen, silica, iron, oxide, carbonate. Batu yang mudah diukir adalah yang
banyak mengandung iron oxide dan carbonate. Batu lebih keras daripada tanah
liat namun batu menghisap air sehingga mudah rusak. Jenis-jenis batu ialah batu
semen, batu pualam dan batu granit. Batu tahan dari pengaruh zat kimia namun
mua rusak karena perubahan temperature. Penelitian ilmiah batuan disebut
petrologi, dan petrologi merupakan komponen penting dari geologi. Dalam bangunan batu biasanya dipakai
pada pondasi bangunan untuk bangunan dengan ketinggian kurang dari 10 meter, Batu juga dipakai untuk memperindah fasade bangunan dengan memberikan
warna dan tekstur unik dari batu alam.
9. Logam
Logam adalah sebuah unsur kimia yang siap membentuk ion (kation) dan memiliki ikatan logam, dan kadangkala dikatakan bahwa ia mirip dengan kation
di awan elektron. Metal adalah salah satu dari tiga kelompok unsur yang
dibedakan oleh sifat ionisasi dan ikatan,
bersama dengan metaloid dan nonlogam. Dalam tabel periodik, garis diagonal digambar dari boron (B) ke polonium (Po) membedakan logam dari nonlogam.
Unsur dalam garis ini adalah metaloid, kadangkala disebut semi-logam; unsur di
kiri bawah adalah logam; unsur ke kanan atas adalah nonlogam. Nonlogam lebih
banyak terdapat di alam daripada logam, tetapi logam banyak terdapat dalam
tabel periodik. Beberapa logam terkenal adalah aluminium, tembaga, emas, besi, timah, perak, titanium, uranium, dan zink. Alotrop logam cenderung mengkilap, lembek,
dan konduktor yang baik, sementara nonlogam
biasanya rapuh (untuk nonlogam padat), tidak mengkilap, dan insulator. Logam adalah alat tulis yang bisa
tahan lama jenisnya ada kuningan, perunggu dan timah. Sejak mereka meninggalkan
zaman batu logam dibuat untuk hiasan dan menulis. Pada tahun 776 sebelum masehi
orang dahulu menggunakan timah berbentuk tablet sebagai alat untuk menulis.
Timah adalah yang paling lunak, sedangkan tembaga bisa dibentuk dengan cara
menempanya. Benda-benda ini tahan air dan tahan panas tapi tidak tahan dengan
bahan kimia.
10. Kulit binatang
Sejak masa prasejarah, manusia sudah
menggunakan kulit sebagai keperluan mereka, sedangkan cara pengawetannya kulit
menjadi terkenal semenjak zaman Mesir Kuno. Bagian luar kulit terdapat bulu,
kelenjar keringat sedangkan bagian dalamnya terdapat dan pembulu darah serta
lemak. Peredaan setruktur binatang membedakan kuwalitas kulit baian dalam kuli
mengandung potein yang jika direbus berubah menjedi lem. Sejak sebelum masa pre
sejarah manusia telah mempergunakan kulit sebagai keperluan mereka. Sedangkan
cara penawetannya menjadi terkenal semenjak zaman mesir kuno.
11. Parchment dan vellum
Parchment dan vellum berkembang sejak tahun 190 p.c di
asia kecil. Kaisar eumenees II memiliki 200 volume parchment sebagai pengganti
papyrus yang dilarang masuk oleh mesir. Vellum adalah kulit binatang muda yang
umurnya kurang dari 6 minggu, sedangkan parchment
adalah kulit domba, awes, kambing dan lain-lain. Pembuata vellum lebih mahal dari pada parchment tapi vellum lebih halus, ptih
mengkilap,hamper menerawang. Parchment dan vellum
adalah bahan yang kuat namun lemas jika lembab dan kaku jika kering. Bahan
pustaka ini susah dikerjakan. Oleh karena itu bahan ini lebih sering digunakan
untuk penjilidan. Vellum digunakan
untuk menulis manuskrip dan penjilidan. Seangkan parchment digunakan untuk
manuskrip yang berkualitas murahan.
12. Kulit
Kulit digunakan sebagai sampul buku
ampai abad ke 19 selama lebih dari 2000 tahun orang sudah mengenal cara
memperoses kulit yang biasa disebut “ samak “. Perubahan kulit menjadi leather
meningkatkan mutunya, lebih tahan air, awet dipakai dan lebih lentur.
Pemerosesan ini di sebut dengan samak. Mula-mula kulit direndam dengan air
kapur kemudian bulu binatangnya digosok hingga bersih lalu dimasukkan kedalam
tempat perendaman dengan kulit pohon “oak”. Zat kimia dari kit kayu tersebut
masuk ke pori-pori kulit dan bercampur dengan protein menjadi molekul-molekul
yang kuat yang disebut dengan leather perubahan
kulit menjadi leather meningkatkan
mutunya , lebih tahan air , awet
dipakai dan lebih lentur (Martoatmojo, 1999)
2.2. Sejarah Bahan Pustaka Zaman Kertas
Kata paper berasal dari kata papyrus berarti ruput gajah yang banyak
tumbuh di air berarti rumput gajah yang banyak tumbuh di air. Dahulu kala
bangsa mesir kuno menggunakan papyrus sebagai bahan untuk menulis pada tahun
105 tsai lun seorang tionghoa membuat kertas dari bahan sutra dicampur dengan
serbuk kain kemudian direndam beberapa waktu dalam air lalu disaring kemudian
hasil saringan itu dijemur dalam bentuk lembaran-lembaran untuk ditulisi dengan
tulisan kanji (Lasa, 2010). Penemuan ini menyebar kejepang pada tahun 601 lalu
kesamarkan pada tahun 751, lalu kemesir. Oleh bangsa mesir diperkenalkan ke
spanyol pada tahun 1150 yang selanjutnya ke Amerika dan Eropa. Tahun 1790
nicolas Robert seorang prancis membuat mesin pembuat kertas, lalu dikembangkan
oleh henry dan seary fourdriner seorang bangsawan inggiris menjadi alat pembuat
kertas. Ukuran kertas berdasarkan pada sni yang digolongkan menjadi A, B, dan
C. penemuan standar ini dispongsori oleh bridtish standard institution dan
international standard organization
2.2.1 Bahan Dasar Kertas
Menurut kunha,
kertas bias dibuat dari berbagi serat, yaitu :
1.
Serat binatang seperti wol, bulu, rambut, sutera.
2.
Serat bahan mineral, misalnya asbes
3.
Serat sintesis, misalnya rayon, nilon, kaca
4.
Serat keramik, baja, dan barang tambang lainnya
5.
Serat tumbuh – tumbuhan, misalnya kapas, kayu, merang,
dsb.
2.2.2. Proses pembuatan kertas
Dalam proses
pembuatan bubur kertas dapat dibagi menjadi tiga macam cara, yaitu:
1.
Proses mekanis, yaitu suatu proses penggilingan bahan
baku dengan batu sambil dibasahi air agar lebih mudah.
2.
Proses semi kimia, yaitu bahan kayu direndam, dan
dipanaskan dengan bahan kimia sampai lunak baru kemudian digiling.
3.
Proses kimia, yaitu proses pembuatan bubur kertas.
Bahan baku kayu dimasak dengan bahan kimia sampai lignin dan hemiselulosa
terpisah dari serat selulosanya.
2.3.
Pelestarian Bahan Pustaka Kuno
Bahan Pustaka kuno perlu untuk dilestarikan keberadaannya
agar tidak musnah dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakatnya. Upaya
melestarikan bisa dilakukan melalui penyimpanan di meseum atau perpustakaan
serta mengolah dengan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya agar mudah
dipahami dan dimanfaatkan oleh
pengembang
kebudayaan.
a.
Preservasi
Preservasi naska kuno memerlukan keahlian khusus karena
selain bahan pustakannya berbeda dengan bahan pustka saat ini bahan
sebagai sumber daya manusia. Dalam ruang lingkup
perpustakaan, pelestarain (preservasi) merupakan suatu pekerjaan untuk
memelihara dan melindungi koleksi atau bahan pustaka sehingga tidak mengalami
penurunan nilai dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka waktu lama.
Dalam strategi preservasi Bahan Pustaka kuno, terdapat dua pendekatan yang
dilakukan, yaitu pendekatan terhadap fisik Bahan Pustaka dan pendekatan
terhadap teks dalam isi Bahan Pustaka. Berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya
Nomor 5 Tahun 1992 disebutkan bahwa yang merupakan Bahan Pustaka kuno adalah
dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan atau diketik yang belum
dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih. Dari isi
Undang-Undang Cagar Budaya di atasa dapat terbayang bahwa keadaan fisik dari
Bahan Pustaka kuno yang berusia 50 tahun lebih tersebut tentu sudah rapuh atau
rusak. Preservasi terhadap fisik Bahan Pustaka dilakukan sesuai dengan tujuan
preservasi yaitu agar informasi yang terkandung di dalam manuskrip tersebut
terjaga dan dapat digunakan secara optimal. Dua hal yang perlu dilakukan dalam
preservasi fisik Bahan Pustaka, yaitu dengan melakukan konservasi dan
restorasi(Primadesi, 2002).
b.
Konservasi
Konservasi Bahan Pustaka kuno adalah perlindungan, pengawetan
dan pemeliharaan Bahan Pustaka kuno atau dengan kata lain menjaga Bahan Pustaka
kuno tersebut dalam keadaan baik. Conservation atau pengawetan
terbatas pada kebijakan serta cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan
arsip untuk kelestarian koleksi tersebut.
Bahan Pustaka kuno atau manuskrip mengandung kadar asam
karena tinta yang digunakan. Tinta yang digunakan pada manuskrip terbuat dari
karbon, biasanya jelaga, dicampur dengan gum arabic. Tinta ini
menghasilkan gambar yang sangat stabil. Agar kondisinya tetap baik, keasaman yang
terkandung dalam Bahan Pustaka tersebut harus dihilangkan. Setelah keasamannya
hilang, manuskrip dibungkus dengan kertas khusus, lalu disimpan dalam kotak
karton bebas asam. Ini merupakan salah satu cara melakukan konservasi terhadap
manuskrip (Primadesi, 2002).
c.
Restorasi
Setelah dilakukan konservasi, Bahan Pustaka kuno akan
mengalami restorasi. Restorasi adalah mengembalikan bentuk Bahan Pustaka
menjadi lebih kokoh. Ada teknik-teknik tertentu agar fisik Bahan Pustaka
terjaga dan membuatnya kokoh. Untuk melakukan restorasi harus melihat keadaan
manuskrip tersebut, karena tiap kerusakan fisik perlu ditangani dengan cara
yang berbeda karena bahan pustaka mempunyai berbagai macam bahn yang mempunyai
kelebihan dan kelemahan tertentu.
1. Membersihkan
dan melakukan fumigasi.
2. Melapisi
dengan kertas khusus (doorslagh) pada lembaran Bahan Pustaka yang rentan.
3. Memperbaiki
lembaran Bahan Pustaka yang rusak dengan bahan arsip.
4. Menempatkan
di dalam tempat aman (almari).
5. Menempatkan
pada ruangan ber-AC dengan suhu udara teratur.
d.
Kodekologi
kodikologi adalah ilmu mengenai Bahan Pustaka dan bukan
mempelajari apa yang tertulis di dalam Bahan Pustaka. Dain juga menegaskan
walaupun kata kodikologi itu baru. Tugas dan “daerah” kodikologi antara lain
ialah sejarah Bahan Pustaka, sejarah koleksi Bahan Pustaka, penelitian mengenai
tempat Bahan Pustaka-Bahan Pustaka yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog,
penyusunan daftar katalog, perdagangan Bahan Pustaka, dan penggunaan-penggunaan
Bahan Pustaka itu. Kodikologi bertujuan mengetahui segala aspek Bahan Pustaka
yang diteliti. Aspek-aspek tersebut adalah aspek di luar isi kandungan Bahan
Pustaka tentunya. Analisis kodikologi ini, sesuai dengan tujuan, yaitu
penyusunan daftar katalog dan juga memberi perhatian pada fisik Bahan Pustaka.
Karena dalam katalog, terdapat deskripsi fisik Bahan Pustaka selain informasi
di mana Bahan Pustaka itu berada. Pendeskripsian ini berguna untuk membantu
para peneliti mengetahui ketersediaan Bahan Pustaka itu sehingga memudahkan
penelitian. Pendeskripsian fisik ini dapat berupa judul dan pengarang Bahan
Pustaka, tahun dan tempat Bahan Pustaka dibuat, jumlah halaman, latar belakang
penulis, dan lain-lain. Maka selain mencari asal-usul dan kejelasan mengenai
kapan, bagaimana, dan dari mana Bahan Pustaka tersebut dihasilkan, analisis
kodikologi juga berkembang juga pada ada atau tidaknya illuminasi dan
ilustrasi, jumlah kuras Bahan Pustaka, bentuk jilidannya, sejauh mana kerusakan
Bahan Pustaka (robek, terbakar, terpotong, rusak karena pernah terkena cairan,
dimakan binatang, berjamur, hancur atau patah, dan lain-lain) - pendeknya
segala hal yang bisa diketahui mengenai Bahan Pustaka itu (Primadesi, 2002).
Hal awal yang biasanya dilakukan dalam analisis kodikologi
adalah menyusuri sejarah Bahan Pustaka. Sejarah Bahan Pustaka biasanya didapat
dari catatan-catatan di halaman awal atau akhir yang ditulis oleh pemilik atau
penyimpan Bahan Pustaka itu. Untuk fisik Bahan Pustakanya, yang dilihat adalah
panjang, lebar, ketebalan Bahan Pustaka keseluruhan, panjang, lebar, dan jumlah
halaman yang digunakan untuk menulis, dan bahan atau media Bahan Pustaka.
Setelah
hal-hal di atas dilakukan, preservasi masuk ke bagian dalam Bahan Pustaka,
yaitu bagian Bahan Pustaka yang ditulisi atau teks. Di sini dilihat jenis huruf
dan bahasa yang digunakan, ada atau tidaknya rubrikasi atau penanda awal dan
akhir bagian dalam tulisan (biasanya berupa tulisan yang diwarnai berbeda
dengan tulisan isi), ada atau tidaknya catchword/ kata pengait yang
biasanya digunakan untuk menandai halaman Bahan Pustaka, bentuk tulisan Bahan
Pustaka, apakah seperti penulisan cerita pada umumnya, ataukah berbentuk
kolom-kolom hingga dalam satu halaman bisa terdapat dua atau lebih kolom
tulisan (Primadesi, 2002).
Selanjutnya dicek garis bantuan yang digunakan untuk mengatur
tulisan, cap kertas yang menandai perusahaan penghasil kertas alas, ada atau
tidaknya iluminasi dan gambar keterangan yang menjelaskan sesuatu dalam Bahan
Pustaka).
e.
Pemindahan
Informasi bahan pustaka
Pemidahan
informasi bertujuan untuk melestarikan informasi yang terkandung pada bahan
pustaka kuno agar ilmunya dapat dimanfaaatkan dan disebarlaskan oleh
masyarakat. kegiatan ini dimulai menyecan atau menfoto bahan pustaka kemudian
memindahkannya kedalam bentuk lain misalya cd, microfilm atau di digitalkan .
Menurut ansor tahun 2007 Mikrofilm dan mikrofis sudah banyak dilakukan namun
harganya mahal. Pada umumnya bahan pustakanya adalah surat kabar, arsip, dan
buku-buku langka yang berada di LIPI Jakarta, Bahan pustaka yang dikenala
dengan names lontara, setelah bahan pustaka kuno dari kraton Mangkunegara,
keultanan Yogyakarta, pakulama dengan bekerja sama dengan lembaga asing,
misalnya kerjasama dengan Australia, Belanda dan Amerika serikat.
f. Perawatan khusus Jenis
Bahan Pustaka
Perawatan khusus dibutuhkan karena setiap jenis bahan
pustaka mempunyai struktur, dan kandungan yang berbeda misalnya kandungan
selulosa pada kapas, kertas 98%, selulosa sisa basil pertanian 40-60%, Bambu
60% selulosa, kayu-kayuan 40-60% selulosa(Koeswarno, 2003). Serta setiap jenis
bahan pustaka yang mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing Misalya
logam yang tahan suhu namun rentang pada zat kimia. Perawatan untuk daun lontar
yaitu: Tinta lontar yang digunakan untuk menulis pudar maka dapat diperbaiki
dengan menambahkan karet grafit kedalam pena (stylus) dengan alas katun
kemudian memindahkannya dengan mengeluarkan kelebihannya pada kain wol.
Kepudaran tulisan yang menggarut atau menggores bagian epidermis dari kertas
tidak dapat diperbaiki, Jika daun lontar
rapuh dapat diperbaiki kelenturannya kembali setelah disemprotkan dengan minyak
kenari(Susetyo-Salim, 2007).
3.1. Kesimpulan
1. Sejarah
zaman pra kertas dimulai dari bahan pustaka Tanah liat pada zaman batu, Papyrus,
Kulit kayu, Daun tal atau lontar, Kayu, Gading, Tulang, Batu, Logam (metal), Kulit binatang, Pergamen (parchmental)
dan vellum, dan Leather.
2. Tahun
105 Tsai lun seorang tionghoa membuat kertas dari bahan sutra dicampur dengan
serbuk kain kemudian direndam beberapa waktu dalam air lalu disaring kemudian
hasil saringan itu dijemur dalam bentuk lembaran-lembaran untuk ditulisi dengan
tulisan kanji. Penemuan ini menyebar ke Jepang, lalu ke Mesir, Spanyol, Amerika
dan Eropa.
3. Pelestarian
Bahan Pustaka Kuno dengan cara Preservasi, Konservasi,
Kodekologi, Restorasi, Pemindahan Informasi bahan pustaka dan Perawatan khusus Jenis Bahan Pustaka.
3.2. Saran
Pemeliharaan
pada bahan pustak terutama bahan pustaka kuno yang tinggi akan nilai sejarahnya
dirawat dengan baik agar koleksi-koleksi yang ada terjaga kelestarianya dan
dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Ansor,
Sokhibul. 2007. Perawatan Bahan Pustaka
Perpustakaan Sekolah, Jurnal Perpustakaan Sekolah. (Online), (http://library.um.ac.id/index.php/
Artikel-Jurnal-Perpustakaan-Sekolah-ISSN/perawatan-bahan-pustaka-perpustakaan-sekolah.html),
diakses 2014
Desi, yonaprima.2010. Jurnal Bahasa dan Seni.
(Online), http://yonaprimadesi.
wordpress.com/2011/12/07/peran-masyarakat-lokal-dalam-usaha-pelestarian-naskah-naskah-kuno/), diakses 30 Agustus 2014
Iskandar, Mohammad dkk. 2006. ensiklopedia sejarah dan budaya sejarah dunia 1. jakarta : PT. Lentera
abadi
Ismi, Khairul. 2012. Pelestarian Dokumen Tentang: Sejarah Bahan Pustaka. (Online), http://khairul-ismi.blogspot.com/2012/04/pelestarian-dokumen-tentang-sejarah.html, diakses pada 30 Agustus
Lasa Hs. 2010. Kamus Kepstakawanan Indonesia. Jakarta: Pustaka book Publiser
Martoatmodjho,
Karmidi. 1999. Buku Materi Pokok Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta:
Universitas Terbuka
Koeswarno dkk.2003. Pedoman Pelestarian Bahan Pustaka.
Surabaya: Badan Perpustakaan Provinsi Jawa timur
Nur,
Aiy. 2013. Sejarah Bahan Pustaka Dan Cara
Perawatanya. (Online), (http://iydhapoex.blogspot.com/2013/09/sejarah-bahan-pustaka-dan-cara.html), diakses pada 30 Agustus 2014
Tamara
A. Susetyo-Salim 2007. Palm
Leaves (Daun Lontar) .(Online), (http://tamarasusetyofibui.blogspot.com/2007/09/kelompok-10-palm-leaves-daun-lontar.html), diakses 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar