Kamis, 18 Desember 2014

SEJARAH BAHAN PUSTAKA DARI SEBELUM DIKETEMUKANYA KERTAS SAMPAI DIKETEMUKAN KERTAS DAN PELESTARIANYA



1.1.Latar Belakang

Bahan Pustaka adalah subuah peninggalan budaya yang sampai sekarang sangat dibutuhkan. Bahan pustaka sangat akrab di kehidupan manusia terutama kertas. Kertas dengan segala tampilannya hampir dapat dikatakan sulit untuk dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahan Pustaka kuno pada umumnya berbentuk bahan tulisan tangan sehingga Bahan Pustaka memuat cerita yang lebih lengkap dan lebih panjang dan bersifat anonim serta tidak berangka tahun. Banyak orang yang belum tahu tentang bahan pustaka misalnaya sejarah bahan pustaka, proses pembuatan, serta perkembangan penggunaan bahan pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 491), kertas adalah barang lembaran dibuat dari bubur rumput, jerami, kayu, dan sebagainya, yang biasa ditulisi atau untuk pembungkus, dan sebagainya.

Bahan pustaka merupakan salah satu asset bangsa yang sangat penting karena manusia dapat mengetahui sejarah, ilmu pengetahuan dan budaya dari bahan pustaka. Bahan pustaka mulai dari tanah liat sampai perpustakaan digital. Beberapa bahan pustaka sudah mulai ditinggalkan karena kemajuan teknologi dan bahanya sudah sulit serta sulitnya dalam pemakaianya namun bahan pustaka kuno perlu dipelajari untuk pengembanganya di masa depan berbagai mimpi dimulai dari bahan pustaka kuno misalnya sebuah sabak yang sekarang menjadi sebuah tablet, dan hasil kerajinan dari tanaman eceng gondok yang terinspirasi dari pembuatan kertas papyrus. Pengetahuan tentang bahan pustaka kuno sangat bermanfaaat terutama dalam pelestarian bahan pustakaya yang perawatanya samapai saat itu kurang diperhatikan. Oleh karena itu saya akan membahas sebuah makalah yang berjudul Sejarh bahan pustaka dari sebelum ditemukan sampai sudah ditemukan kertas

1.2 Rumusan Masalah
1.     Bagaimana sejarah bahan pustaka zaman sebelum kertas?
2.     Bagaiman bahan pustaka zaman kertas?
3.     Bagaimana melestarikan bahan pustaka kuno?

1.3  Tujuan Penulisan
1.     Untuk mengetahui sejarah bahan pustaka zaman sebelum kertas.
2.     Untuk mengetahui bahan pustaka zaman kertas.
3.     Untuk mengethui cara melestarikan bahan pustaka kuno.


2.1. Sejarah Bahan Pustaka Zaman Pra kertas
Manusia menghasilkan karyanya sejak dulu dan menyimpanya di berbagai media salahsatunya berupa tulisan sebagai alat komunikasi dan penyebaran ilmu, mulai dari tanah liat pada zaman batu sampai era modern.
1.     Tanah liat
Tanah liat merupakan medium perekam informasi yang paling sedrhana dan paling tua dipergunakan. Kira-kira 3000 tahun zaman seblum masehi bangasa sumeria menulis ilmu pengetahuan mauapun jadwal kegiatan pada lempng tanah liat ini(Lasa HS, 2010). Orang sumeria menciptakan salah satu sistem penulisan yaitu cunciform sejak sekitar tahun 3200 sm, mereka menulis di atas lempengan yg terbuat dari tanah liat. para juru tulis memegang peranan kunci di masyarakat. ribuan peninggalan batu tulis yangditemukan berisi berbagai laporan, tulisan keagamaan maupun surat (anonim, 2006). Waktu masih basah dan lembek tanah liat bisa ditulis atau diukir dengan mudah, sesudah itu dibakar atau dipanaskan dengan sinar matahari. Tanah liat yang sudah dibakar hamper tidak bisa rusak baik oleh pengaruh air, api maupun perubahan temperature. Tanah liat bisa tahan lama karena mengandung minerl yang disebut kaolin.  Dalam jumlah kecil juga mengandung besi, semen, magnesium, soda dan potassium. Sejak zaman Assyria tanah liat sudah dipergunakan sebagai media tulis. Dibentuk bulat pipih seperti tablet kemudian ditulis dengan jarum atau benda keras yang runcing sewaktu masih lunak. Perpustakaan Alexandria di mesir terkenal dengan koleksi “tablet tanah liat”(Martoatmojo, 1999).
2.     Papyrus
Orang Mesir kuno menemukn papyrus pada 2000 sebelum masehi. Orang mesir merekatkan lembaran menjadi gulungan perkamen. tulisan hieroglif bidang admin dan keagamaan dituliskan dengan tangan( Anonim, 2006). Bahan untuk menulis ini dibuat dari batang papyrus. Untuk membuat kertas papyrus ini bangsa mesir memotong sepanjang 40 cm kemudian dibuka dan diambil intinya. Inti ini disayat tipis-tipis, kemudian dijajarkan satu sama yang lain sedikit tumpang tindih untuk membuat lebaran lalu dilumuri lem dan dihimpit sampai lemnya kering kemudian digosok dengan tulang. Papyrus ditulis dengan karbon dan tinta “iron oxide” merah (Martoatmojo, 1999). Ada juga yang megatakan cara pembuatannya adalah rumput papyrus dipukul-pukul agar rata lalu dikeringkan kemudian ditulisi dengan pahatan atau tinta. Rumput ini dianggap penting karena serat selulosanya merupakan landasan kimiawi untuk pembuata kertas zaman moderen ini(Lasa HS, 2010)

3.     Kulit kayu(jawa kliko)
Namanya berasal dari bahasa latin “bark” artinya  “liber” buku. Kulit kayu adalah lapisan terluar batang dan akar tumbuhan berkayu. Dalam istilah teknis, kulit kayu adalah seluruh bagian di luar jaringan kambium. Kulit kayu menutupi kayu dan terdiri atas bagian dalam dan luar(Ismi, 2012). Bagian dalam, yang pada batang dewasa merupakan jaringan hidup, termasuk daerah terdalam periderm. Lapisan luar pada tangkai tua termasuk jaringan permukaan tangkai yang mati, bersama dengan bagian-bagian periderm terdalam dan seluruh jaringan di sisi luar periderm. Lapisan luar pada pohon juga disebut rhitidoma. Bagian dalam kulit kayu yang melingkari batang biasanya dibuat obat, alat penyama kuli, atau sebagai pewarna. Pada abad ke-17 dieropa dan amerika menggunakan kulit kaayu ini untuk surat menyurat. Sampai saat ini masih dipakai di asia tengah dan timur jauh. Kelemahan bahan pustaka ini cepat rusak jika lembab dan bila terkenal akan menempel dengan yang lainnya. Buku dan manuskrip kayu diberi pupukan atau dipiahkan halaman satu ke yang lain agar tidak menempel. Penyimpanannya dilakukan dengan cara menggulung.
4.     Daun tal
Lontar (dari bahasa Jawa: ron tal, "daun tal") adalah daun siwalan atau tal (Borassus flabellifer atau palmyra)(Ismi, 2012). Tal adalah sejenis pohon palem yang tumbuh dipatai. Daunnya tebal dan kuat sehingga tidak rusak ketika ditulis. Banyak naskah jawa ditulis pada daun tal yang disebut lontar. Orang bugis makasar, bali, sasak, dan Lombok menulis lontar berisi legenda, riwayat, adat, babat, undang-undang, pedoman pembuatan rumah maupun catatan tentang obat-obatan. Orang bugis dan makasar melakukan penulisan pada lontar dimulai abad ke 16 sebelum agama islam dipeluk secara umum oleh masyarakat di Sulawesi selatan. Orang bali telah melaksanakan upacara kematian membaca lontar suci yang merupakan petunjuk jalan bagi roh dalm menuju alam atas. Naskah kuno orng bugis dan makasar umumnya ditulis diatas kertas menggunakan lidi injuk atau pena dalam aksara lontara. Diantara buku penting bahkan dianggap keramat oleh orang bugis dan makasar adalah suregaligo(Las HS, 2010). Daun tal dipotong sepanjang kira-kia 45 cm diraut bagian tepinta ketika masih basah ditulis dengan jarum. Tulisan bekas jarum tadi diisi dengan minyak kelapa, kemudian dibersihkan, sehingga goresan atau tulisan tadi dapat dibaca dengan baik bagian pinggirnya diberi lubang tempat benang atau tali menggabungkan tal yang satu dengan yang lain sehingga seperti buku. Lontar dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan bahan pustaka ini banayak tedapat di bali.
5.     Kayu
Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi (pengayuan). Ilmu perkayuan (dendrologi) mempelajari berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu serta sifat kimia, fisika, dan mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan(Ismi, 2012). Kayu digunakan sebagai bahan pustaka di negeri cina nomor 2 sesudah sutra. Menurut chaucer buku telah dibuat dari tablet kayu masih dipakai di ingris hingga abad 14. Batang, cabang, dan akar kayu dipergunakan sebagai alat tulis. Kayu bisa bertahan lama. Ulat kayu atau rayap sering menyerang kayu ini terutama di tempat yang lembab agar bahan pustaka ini awet sebaiknya direndam dengan bahan kimia.
6.     Gading
Gading adalah bagian yang terdapat pada rahang atau mulut gajah, yang memanjang keluar seperti taring pada babi. Biasanya gajah-gajah diburu orang untuk mendapatkan gadingnya demi kepentingan komersial dan seni. Gadng adalah tempat untuk menulis yang baik karena sifatnya keras namun mudah diukir atau ditulis, namun tinta tidak bisa menempel dengan baik pada gading sehingga tulisan mudah rusak.

7.     Tulang
Orang-orang dinasti shang pada tahun 1300 sebelum masehi menggunakan tulang sebagai tulang ramalan dimana tulang tersebut berukir pigtagram (tulisan gambar) cina awal. benda ini digunakan oleh para peramal untuk memprediksikan masa depan(Anonim, 2006). Tulang dipakai sebagai karya seni, ukiran atau tulisan yang menarik. Zat perekat yang ada pada tulang bisa dibuat untuk lem. Namun lem dari tulang tidak baik untuk mengelem buku karena dapat nengundang binatang kecil. Tulang terdiri atas collagen dan garam inorganic seperti kalsium dam magnesium. Tulang bisa diukir ditulis atau di cat. Bahan ini sangat awet namun mudah terpengaruh pada suhu.
8.     Batu
Di Indonesia awal dari bahan pustaka batu yaitu sebuah Prasati yang berbentuk yupa dari kerajaan kutai pada tahun 400 sebelum masehi menggunakan huruf pallawa terdapat juga prasasti besar paguruyung di bukit garbow tahun 1356 masehi, prasasti ini berisi pujian terhadap raja aditiawarma(Mohammad, 2006).  Batu terbuat dari pasir bercampur dengan semen, silica, iron, oxide, carbonate. Batu yang mudah diukir adalah yang banyak mengandung iron oxide dan carbonate. Batu lebih keras daripada tanah liat namun batu menghisap air sehingga mudah rusak. Jenis-jenis batu ialah batu semen, batu pualam dan batu granit. Batu tahan dari pengaruh zat kimia namun mua rusak karena perubahan temperature. Penelitian ilmiah batuan disebut petrologi, dan petrologi merupakan komponen penting dari geologi. Dalam bangunan batu biasanya dipakai pada pondasi bangunan untuk bangunan dengan ketinggian kurang dari 10 meter, Batu juga dipakai untuk memperindah fasade bangunan dengan memberikan warna dan tekstur unik dari batu alam.

9.     Logam
Logam adalah sebuah unsur kimia yang siap membentuk ion (kation) dan memiliki ikatan logam, dan kadangkala dikatakan bahwa ia mirip dengan kation di awan elektron. Metal adalah salah satu dari tiga kelompok unsur yang dibedakan oleh sifat ionisasi dan ikatan, bersama dengan metaloid dan nonlogam. Dalam tabel periodik, garis diagonal digambar dari boron (B) ke polonium (Po) membedakan logam dari nonlogam. Unsur dalam garis ini adalah metaloid, kadangkala disebut semi-logam; unsur di kiri bawah adalah logam; unsur ke kanan atas adalah nonlogam. Nonlogam lebih banyak terdapat di alam daripada logam, tetapi logam banyak terdapat dalam tabel periodik. Beberapa logam terkenal adalah aluminium, tembaga, emas, besi, timah, perak, titanium, uranium, dan zink. Alotrop logam cenderung mengkilap, lembek, dan konduktor yang baik, sementara nonlogam biasanya rapuh (untuk nonlogam padat), tidak mengkilap, dan insulator. Logam adalah alat tulis yang bisa tahan lama jenisnya ada kuningan, perunggu dan timah. Sejak mereka meninggalkan zaman batu logam dibuat untuk hiasan dan menulis. Pada tahun 776 sebelum masehi orang dahulu menggunakan timah berbentuk tablet sebagai alat untuk menulis. Timah adalah yang paling lunak, sedangkan tembaga bisa dibentuk dengan cara menempanya. Benda-benda ini tahan air dan tahan panas tapi tidak tahan dengan bahan kimia.

10.  Kulit binatang
Sejak masa prasejarah, manusia sudah menggunakan kulit sebagai keperluan mereka, sedangkan cara pengawetannya kulit menjadi terkenal semenjak zaman Mesir Kuno. Bagian luar kulit terdapat bulu, kelenjar keringat sedangkan bagian dalamnya terdapat dan pembulu darah serta lemak. Peredaan setruktur binatang membedakan kuwalitas kulit baian dalam kuli mengandung potein yang jika direbus berubah menjedi lem. Sejak sebelum masa pre sejarah manusia telah mempergunakan kulit sebagai keperluan mereka. Sedangkan cara penawetannya menjadi terkenal semenjak zaman mesir kuno.
11.  Parchment  dan vellum
Parchment dan vellum berkembang sejak tahun 190 p.c di asia kecil. Kaisar eumenees II memiliki 200 volume parchment sebagai pengganti papyrus yang dilarang masuk oleh mesir. Vellum adalah kulit binatang muda yang umurnya kurang dari 6 minggu, sedangkan parchment adalah kulit domba, awes, kambing dan lain-lain. Pembuata vellum lebih mahal dari pada parchment tapi vellum lebih halus, ptih mengkilap,hamper menerawang. Parchment  dan vellum adalah bahan yang kuat namun lemas jika lembab dan kaku jika kering. Bahan pustaka ini susah dikerjakan. Oleh karena itu bahan ini lebih sering digunakan untuk penjilidan. Vellum digunakan untuk menulis manuskrip dan penjilidan. Seangkan parchment digunakan untuk manuskrip yang berkualitas murahan.
12.  Kulit
Kulit digunakan sebagai sampul buku ampai abad ke 19 selama lebih dari 2000 tahun orang sudah mengenal cara memperoses kulit yang biasa disebut “ samak “. Perubahan kulit menjadi leather meningkatkan mutunya, lebih tahan air, awet dipakai dan lebih lentur. Pemerosesan ini di sebut dengan samak. Mula-mula kulit direndam dengan air kapur kemudian bulu binatangnya digosok hingga bersih lalu dimasukkan kedalam tempat perendaman dengan kulit pohon “oak”. Zat kimia dari kit kayu tersebut masuk ke pori-pori kulit dan bercampur dengan protein menjadi molekul-molekul yang kuat yang disebut dengan leather perubahan kulit menjadi leather meningkatkan mutunya , lebih tahan air , awet dipakai dan lebih lentur (Martoatmojo, 1999)

2.2. Sejarah Bahan Pustaka Zaman Kertas
Kata paper berasal dari kata papyrus berarti ruput gajah yang banyak tumbuh di air berarti rumput gajah yang banyak tumbuh di air. Dahulu kala bangsa mesir kuno menggunakan papyrus sebagai bahan untuk menulis pada tahun 105 tsai lun seorang tionghoa membuat kertas dari bahan sutra dicampur dengan serbuk kain kemudian direndam beberapa waktu dalam air lalu disaring kemudian hasil saringan itu dijemur dalam bentuk lembaran-lembaran untuk ditulisi dengan tulisan kanji (Lasa, 2010). Penemuan ini menyebar kejepang pada tahun 601 lalu kesamarkan pada tahun 751, lalu kemesir. Oleh bangsa mesir diperkenalkan ke spanyol pada tahun 1150 yang selanjutnya ke Amerika dan Eropa. Tahun 1790 nicolas Robert seorang prancis membuat mesin pembuat kertas, lalu dikembangkan oleh henry dan seary fourdriner seorang bangsawan inggiris menjadi alat pembuat kertas. Ukuran kertas berdasarkan pada sni yang digolongkan menjadi A, B, dan C. penemuan standar ini dispongsori oleh bridtish standard institution dan international standard organization




2.2.1 Bahan Dasar Kertas
Menurut kunha, kertas bias dibuat dari berbagi serat, yaitu :
1.     Serat binatang seperti wol, bulu, rambut, sutera.
2.     Serat bahan mineral, misalnya asbes
3.     Serat sintesis, misalnya rayon, nilon, kaca
4.     Serat keramik, baja, dan barang tambang lainnya
5.     Serat tumbuh – tumbuhan, misalnya kapas, kayu, merang, dsb.

2.2.2. Proses pembuatan kertas
Dalam proses pembuatan bubur kertas dapat dibagi menjadi tiga macam cara, yaitu:
1.     Proses mekanis, yaitu suatu proses penggilingan bahan baku dengan batu sambil dibasahi air agar lebih mudah.
2.     Proses semi kimia, yaitu bahan kayu direndam, dan dipanaskan dengan bahan kimia sampai lunak baru kemudian digiling.
3.     Proses kimia, yaitu proses pembuatan bubur kertas. Bahan baku kayu dimasak dengan bahan kimia sampai lignin dan hemiselulosa terpisah dari serat selulosanya.

2.3.      Pelestarian Bahan Pustaka Kuno
Bahan Pustaka kuno perlu untuk dilestarikan keberadaannya agar tidak musnah dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakatnya. Upaya melestarikan bisa dilakukan melalui penyimpanan di meseum atau perpustakaan serta mengolah dengan mengkaji isi yang terkandung di dalamnya agar mudah dipahami dan dimanfaatkan oleh
pengembang kebudayaan.

a.   Preservasi
Preservasi naska kuno memerlukan keahlian khusus karena selain bahan pustakannya berbeda dengan bahan pustka saat ini bahan  sebagai  sumber  daya  manusia. Dalam ruang lingkup perpustakaan, pelestarain (preservasi) merupakan suatu pekerjaan untuk memelihara dan melindungi koleksi atau bahan pustaka sehingga tidak mengalami penurunan nilai dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka waktu lama. Dalam strategi preservasi Bahan Pustaka kuno, terdapat dua pendekatan yang dilakukan, yaitu pendekatan terhadap fisik Bahan Pustaka dan pendekatan terhadap teks dalam isi Bahan Pustaka. Berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992 disebutkan bahwa yang merupakan Bahan Pustaka kuno adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan atau diketik yang belum dicetak atau dijadikan buku tercetak yang berumur 50 tahun lebih. Dari isi Undang-Undang Cagar Budaya di atasa dapat terbayang bahwa keadaan fisik dari Bahan Pustaka kuno yang berusia 50 tahun lebih tersebut tentu sudah rapuh atau rusak. Preservasi terhadap fisik Bahan Pustaka dilakukan sesuai dengan tujuan preservasi yaitu agar informasi yang terkandung di dalam manuskrip tersebut terjaga dan dapat digunakan secara optimal. Dua hal yang perlu dilakukan dalam preservasi fisik Bahan Pustaka, yaitu dengan melakukan konservasi dan restorasi(Primadesi, 2002).

b.     Konservasi
Konservasi Bahan Pustaka kuno adalah perlindungan, pengawetan dan pemeliharaan Bahan Pustaka kuno atau dengan kata lain menjaga Bahan Pustaka kuno tersebut dalam keadaan baik. Conservation atau pengawetan terbatas pada kebijakan serta cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi tersebut.
Bahan Pustaka kuno atau manuskrip mengandung kadar asam karena tinta yang digunakan. Tinta yang digunakan pada manuskrip terbuat dari karbon, biasanya  jelaga, dicampur dengan gum arabic. Tinta ini menghasilkan gambar yang sangat stabil. Agar kondisinya tetap baik, keasaman yang terkandung dalam Bahan Pustaka tersebut harus dihilangkan. Setelah keasamannya hilang, manuskrip dibungkus dengan kertas khusus, lalu disimpan dalam kotak karton bebas asam. Ini merupakan salah satu cara melakukan konservasi terhadap manuskrip (Primadesi, 2002).







c.      Restorasi
Setelah dilakukan konservasi, Bahan Pustaka kuno akan mengalami restorasi. Restorasi adalah mengembalikan bentuk Bahan Pustaka menjadi lebih kokoh. Ada teknik-teknik tertentu agar fisik Bahan Pustaka terjaga dan membuatnya kokoh. Untuk melakukan restorasi harus melihat keadaan manuskrip tersebut, karena tiap kerusakan fisik perlu ditangani dengan cara yang berbeda karena bahan pustaka mempunyai berbagai macam bahn yang mempunyai kelebihan dan kelemahan tertentu.
1.     Membersihkan dan melakukan fumigasi.
2.     Melapisi dengan kertas khusus (doorslagh) pada lembaran Bahan Pustaka yang rentan.
3.     Memperbaiki lembaran Bahan Pustaka yang rusak dengan bahan arsip.
4.     Menempatkan di dalam tempat aman (almari).
5.     Menempatkan pada ruangan ber-AC dengan suhu udara teratur.

d.       Kodekologi
kodikologi adalah ilmu mengenai Bahan Pustaka dan bukan mempelajari apa yang tertulis di dalam Bahan Pustaka. Dain juga menegaskan walaupun kata kodikologi itu baru. Tugas dan “daerah” kodikologi antara lain ialah sejarah Bahan Pustaka, sejarah koleksi Bahan Pustaka, penelitian mengenai tempat Bahan Pustaka-Bahan Pustaka yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog, perdagangan Bahan Pustaka, dan penggunaan-penggunaan Bahan Pustaka itu. Kodikologi bertujuan mengetahui segala aspek Bahan Pustaka yang diteliti. Aspek-aspek tersebut adalah aspek di luar isi kandungan Bahan Pustaka tentunya. Analisis kodikologi ini, sesuai dengan tujuan, yaitu penyusunan daftar katalog dan juga memberi perhatian pada fisik Bahan Pustaka. Karena dalam katalog, terdapat deskripsi fisik Bahan Pustaka selain informasi di mana Bahan Pustaka itu berada. Pendeskripsian ini berguna untuk membantu para peneliti mengetahui ketersediaan Bahan Pustaka itu sehingga memudahkan penelitian. Pendeskripsian fisik ini dapat berupa judul dan pengarang Bahan Pustaka, tahun dan tempat Bahan Pustaka dibuat, jumlah halaman, latar belakang penulis, dan lain-lain. Maka selain mencari asal-usul dan kejelasan mengenai kapan, bagaimana, dan dari mana Bahan Pustaka tersebut dihasilkan, analisis kodikologi juga berkembang juga pada ada atau tidaknya illuminasi dan ilustrasi, jumlah kuras Bahan Pustaka, bentuk jilidannya, sejauh mana kerusakan Bahan Pustaka (robek, terbakar, terpotong, rusak karena pernah terkena cairan, dimakan binatang, berjamur, hancur atau patah, dan lain-lain) - pendeknya segala hal yang bisa diketahui mengenai Bahan Pustaka itu (Primadesi, 2002).
Hal awal yang biasanya dilakukan dalam analisis kodikologi adalah menyusuri sejarah Bahan Pustaka. Sejarah Bahan Pustaka biasanya didapat dari catatan-catatan di halaman awal atau akhir yang ditulis oleh pemilik atau penyimpan Bahan Pustaka itu. Untuk fisik Bahan Pustakanya, yang dilihat adalah panjang, lebar, ketebalan Bahan Pustaka keseluruhan, panjang, lebar, dan jumlah halaman yang digunakan untuk menulis, dan bahan atau media Bahan Pustaka.
Setelah hal-hal di atas dilakukan, preservasi masuk ke bagian dalam Bahan Pustaka, yaitu bagian Bahan Pustaka yang ditulisi atau teks. Di sini dilihat jenis huruf dan bahasa yang digunakan, ada atau tidaknya rubrikasi atau penanda awal dan akhir bagian dalam tulisan (biasanya berupa tulisan yang diwarnai berbeda dengan tulisan isi), ada atau tidaknya catchword/ kata pengait yang biasanya digunakan untuk menandai halaman Bahan Pustaka, bentuk tulisan Bahan Pustaka, apakah seperti penulisan cerita pada umumnya, ataukah berbentuk kolom-kolom hingga dalam satu halaman bisa terdapat dua atau lebih kolom tulisan (Primadesi, 2002).
Selanjutnya dicek garis bantuan yang digunakan untuk mengatur tulisan, cap kertas yang menandai perusahaan penghasil kertas alas, ada atau tidaknya iluminasi dan gambar keterangan yang menjelaskan sesuatu dalam Bahan Pustaka).

e.   Pemindahan Informasi bahan pustaka
Pemidahan informasi bertujuan untuk melestarikan informasi yang terkandung pada bahan pustaka kuno agar ilmunya dapat dimanfaaatkan dan disebarlaskan oleh masyarakat. kegiatan ini dimulai menyecan atau menfoto bahan pustaka kemudian memindahkannya kedalam bentuk lain misalya cd, microfilm atau di digitalkan . Menurut ansor tahun 2007 Mikrofilm dan mikrofis sudah banyak dilakukan namun harganya mahal. Pada umumnya bahan pustakanya adalah surat kabar, arsip, dan buku-buku langka yang berada di LIPI Jakarta, Bahan pustaka yang dikenala dengan names lontara, setelah bahan pustaka kuno dari kraton Mangkunegara, keultanan Yogyakarta, pakulama dengan bekerja sama dengan lembaga asing, misalnya kerjasama dengan Australia, Belanda dan Amerika serikat.

f.      Perawatan khusus Jenis Bahan Pustaka
Perawatan khusus dibutuhkan karena setiap jenis bahan pustaka mempunyai struktur, dan kandungan yang berbeda misalnya kandungan selulosa pada kapas, kertas 98%, selulosa sisa basil pertanian 40-60%, Bambu 60% selulosa, kayu-kayuan 40-60% selulosa(Koeswarno, 2003). Serta setiap jenis bahan pustaka yang mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing Misalya logam yang tahan suhu namun rentang pada zat kimia. Perawatan untuk daun lontar yaitu: Tinta lontar yang digunakan untuk menulis pudar maka dapat diperbaiki dengan menambahkan karet grafit kedalam pena (stylus) dengan alas katun kemudian memindahkannya dengan mengeluarkan kelebihannya pada kain wol. Kepudaran tulisan yang menggarut atau menggores bagian epidermis dari kertas tidak dapat diperbaiki,  Jika daun lontar rapuh dapat diperbaiki kelenturannya kembali setelah disemprotkan dengan minyak kenari(Susetyo-Salim, 2007).





3.1. Kesimpulan
1.     Sejarah zaman pra kertas dimulai dari bahan pustaka Tanah liat pada zaman batu, Papyrus, Kulit kayu, Daun tal atau lontar, Kayu, Gading, Tulang, Batu, Logam (metal), Kulit binatang, Pergamen (parchmental) dan vellum, dan Leather.
2.     Tahun 105 Tsai lun seorang tionghoa membuat kertas dari bahan sutra dicampur dengan serbuk kain kemudian direndam beberapa waktu dalam air lalu disaring kemudian hasil saringan itu dijemur dalam bentuk lembaran-lembaran untuk ditulisi dengan tulisan kanji. Penemuan ini menyebar ke Jepang, lalu ke Mesir, Spanyol, Amerika dan Eropa.
3.     Pelestarian Bahan Pustaka Kuno dengan cara Preservasi, Konservasi, Kodekologi, Restorasi, Pemindahan Informasi bahan pustaka dan Perawatan khusus Jenis Bahan Pustaka.

3.2.   Saran
                   Pemeliharaan pada bahan pustak terutama bahan pustaka kuno yang tinggi akan nilai sejarahnya dirawat dengan baik agar koleksi-koleksi yang ada terjaga kelestarianya dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.
DAFTAR PUSTAKA

Ansor, Sokhibul. 2007. Perawatan Bahan Pustaka Perpustakaan Sekolah, Jurnal Perpustakaan Sekolah. (Online), (http://library.um.ac.id/index.php/ Artikel-Jurnal-Perpustakaan-Sekolah-ISSN/perawatan-bahan-pustaka-perpustakaan-sekolah.html), diakses 2014
Desi, yonaprima.2010. Jurnal Bahasa dan Seni. (Online), http://yonaprimadesi. wordpress.com/2011/12/07/peran-masyarakat-lokal-dalam-usaha-pelestarian-naskah-naskah-kuno/), diakses 30 Agustus 2014
Iskandar, Mohammad dkk. 2006. ensiklopedia sejarah dan budaya sejarah dunia 1.  jakarta : PT. Lentera abadi

Ismi, Khairul. 2012. Pelestarian Dokumen Tentang: Sejarah Bahan Pustaka. (Online), http://khairul-ismi.blogspot.com/2012/04/pelestarian-dokumen-tentang-sejarah.html, diakses pada 30 Agustus

Lasa Hs. 2010. Kamus Kepstakawanan Indonesia. Jakarta: Pustaka book Publiser
Martoatmodjho, Karmidi. 1999. Buku Materi Pokok Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka
Koeswarno dkk.2003.  Pedoman Pelestarian Bahan Pustaka. Surabaya: Badan Perpustakaan Provinsi Jawa timur
Nur, Aiy. 2013. Sejarah Bahan Pustaka Dan Cara Perawatanya. (Online), (http://iydhapoex.blogspot.com/2013/09/sejarah-bahan-pustaka-dan-cara.html), diakses pada 30 Agustus 2014
Tamara A. Susetyo-Salim 2007. Palm Leaves (Daun Lontar) .(Online), (http://tamarasusetyofibui.blogspot.com/2007/09/kelompok-10-palm-leaves-daun-lontar.html), diakses 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar