1.1 Latar
Belakang
Perpustakaan telah memberi
konotasi tentang adanya aktivitas peminjaman dan pengembalian materi
perpustakaan. Kebanyakan, apa yang dipinjamkan dan dikembalikan adalah berupa
buku-buku, sedangkan materi perpustakaan yang lain seperti majalah, surat
bakar, bentuk mikro, hanya boleh dibaca di perpustakaan saja. Perpustakaan dapat dikatakan sebagai suatu
lembaga yang membantu Orang-orang datang untuk memanfaatkan jasanya. Menurut
pengertian ini, perpustakaan tidak dimaksudkan sebagai lembaga yang ingin
mencapai tujuan laba, tetapi lebih mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.
Walaupun perpustakaan sebagai organisasi yang “nirlaba” dalam hal melayani
masyarakat pembaca atau pencari informasi, perpustakaan juga perlu menerapkan
falsafah dan prinsip-prinsip pemasaran yang modern agar dapat mencapai tujuan
organisasional dengan baik.
Pemasaran di perpustakaan tidak
memasarkan produk barang, tapi produk jasa, dalam hal ini adalah jasa
informasi. Perpustakaan memiliki kekayaan yang bisa dipasarkan guna kepentingan
user/pemakai perpustakaan. Koleksi buku-buku baru, jurnal majalah, dokumen,
kliping, jasa layanan peminjaman, jasa layanan penelusuran. Kesemuanya itu
merupakan komoditi yang patut dipertimbangkan bagaimana cara memasarkannya.
Maka bukan hal yang berlebihan bila pemasaran jasa informasi di perpustakaan
perlu dibicarakan.
Informasi punya relevansi yang
sangat tinggi dalam proses pengambilan keputusan. Setiap individu membutuhkan informasi yang sesuai
dengan kebutuhannya. Bagaimana perpustakaan mengoptimalkan Iayanannya bagi para
pemburu informasi? Sebab tidak semua orang menyadari bahwa informasi dapat
diperoleh di perpustakaan.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana proses penyusunan organisasi pemasaran di
perpustakaan?
2. Bagaimana
peran organisasi pemasaran dalam mencapai tujuan perpustakaan?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui proses penyusunan organisasi
pemasaran di perpustakaan?
2. Untuk
mengetahui peran organisasi pemasaran dalam mencapai tujuan perpustakaan?
Aspek Organisasi Pemasaran
1. Pengertian Organisasi
Menurut
Stephen P. Robbins (1993), organisasi adalah unit sosial yang terdiri dari dua
orang atau lebih yang dikoordinasikan untuk mencapai sejumlah tujuan. Menurut
James D. Money (1977), organisasi merupakan setiap kerja sama manusia untuk
mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut Dwight Waldo (1953), organisai
adalah struktur antarhubungan pribadi yang berdasarkan atas wewenang format dan
kebiasaan-kebiasaan di dalam suatu sistem administrasi (Roharjo,1996).
2. Pengertian Organisasi Pemasaran
Untuk
mengetahui apa itu organisasi pemasaran, kita perlu meninjau aspek organisasi
pemasaran. Dengan mengetahui aspek organisasi pemasaran kita dapat memahami apa
organisasi pemasaran itu sebenarnya.
Organisasi
pemasaran adalah pola hubungan kerja antara dua orang atau lebih dalam susunan
hierarki dan pertanggungjawaban untuk mencapai tujuan di bidang..pemasaran. Menurut Peter Drucker mendefinisikan
organisasi pemasaran adalah organisai yang memahami kebutuhan dan keinginan
para pembeli, dan secara efektif mampu mengkombinasikan serta mengarahkan
keterampilan dan sumber daya ke semua bagian organisasi dalam rangka memberikan
kepuasan maksimal kepada konsumennya(Roharjo,1996).
Syarat – Syarat Organisasi Pemasaran
Organisasi
pemasaran memerlukan syarat-syarat yang efektif agar kegiatan pemasaran menjadi
efektif dan efesien. Persyaratan itu adalah:
- Jangkauan pengendalian (Span of control), adalah kemampuan seorang atasan megendalikan bawahanya. Span of control dapat dipengeruhi oleh tingkat pendidikan atasan dan bawahan, Level dari manajemen tersebut, ruang lingkup dan jenis pekerjaan rutin tidaknya pekerjaan yang ada serta pengalaman dari atasan ke bawahan jadi seorang pemimpin perpustakaan harus mempunyai pengetahuan dan skil yang tinggi bisa melalui pendidikan formal dan pengalaman serta kemampuan mereka dalam berkomunikasi dengan bawahan agar dapat mengendaliakan bawahan secara bijak(Sofjan, 2002:298).
- Koordinasi, yaitu kesatuan pengarahan dan kesatuan perintah sehingga kegiatan yang dilakukan dapat sesuai dengan tujuan. Koordinasi ini dapat terjadi bila memiliki tujuan policy dan prosedur kerja, perencanaan, ketentuan atau peraturan dan saling kerja sama(Sofjan, 2002:298).
- Kesepadanan wewenag dan tanggung jawab setiap penjabad dalam pemasaran mempunyai tugas dan tanggung jawab, untuk melaksanakan tugas dan pertanggung jawaban tersebut, pejabat tersebut hendaknya diberi wewenag yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawabya. Hendaklah dijaga jangan sampai terjadi tanggung jawab yang dimintakan dari seorang penjabat lebih besar dari wewenang yang diberiakan kepanya. Misalnya seorang teknisi perpustakaan diberikan pekerjaan yang bersifat teknis, bila orang tersebut diberi wewenang dan tanggung jawab yang melebihi tersebut kemungkinan organisasi tidak akan berjalan dengan efektif karena tidak sesuai dengan kemempuan(Sofjan, 2002:298).
- Kelengkapan (complementary), yaitu semua kegiatan yang perlu ada dalam bidang pemasaran hendaklah tercangkup. Tidak ada suatu kegiatan yang harus ada, tidak tercangkup dalam bidang yang disusun dalam organisasi dalam pemasaran itu, sehingga semua kegiatan harus jelas penaggungjawab pelaksanaanya(Sofjan, 2002:298).
- Tidak terdapat tumpang tindih atau duplikasi (over lapping) tugas dan tanggung jawab. Adanya hal ini dalam suatu organisasi dapat menimbulkan kekaburan tugas dan tanggung jawab. Kekaburan tugas dapat menimbulkan pergeseran atau pengalihan pertanggung jawaban(Sofjan, 2002:298).
- Internal control, yaitu terciptanya suatu sistem saling mengawasi dengan memisahkan antara yang melaksanakan dengan mengontorisasi dan membukukan. Misalnya terdapat internal control, bila yang mengeluarkan tidak sekaligus sebagai orang yang mengontrisasi pengeluaran uang tersebut dan pencatatan dalam pembukuan. Demikian pula terdapat dalam internal control bila yang mengeluarkan barang dari gudang atau yang menyimpan barang bukan orang yang dapat mengontrolisasi pengeluaran barang dan pencatatan dalam pembukaan(Sofjan, 2002:299).
- Kelanggengan (continuity) organisasi, yaitu usaha untuk menjaga agar organisasi yang disusun tidak untuk suatu priode tertentu dalam jangka pendek tetapi suatu masa yang lebih pajang dapat dipertahankan. sehingga bila diperlukan penyesuaian jika kondisi yang berubah, cukup dilakukan dengan mengadakan penyempurnaan di bagian-bagian tertentu saja tidak keseluruahan organisasi. untuk dapat dilakukan penyesuaian tersebut, maka organisai itu hendaklah mempunyai fleksibelitas(Sofjan, 2002:299).
2.1 Proses
Penyusunan Organisasi Pemasaran Perpustakaan
Perpustakaan
membuat tujuan pemasaran perpustakaan dalam jangka waktu tertentu yang telah
ditetapkan dalam suatu perpustakaan berupa target dan anggaran. Target yang
akan dicapai merupakan tujuan dalam bidang pemasaran yaitu mendorong minat
masyarakat mencari informasi di perpustakaan. Dalam rangka mencapai tujuan
pimpinan harus menganalisa situasi dan kondisi pemasaran yang dihadapinya,
untuk dapat menetapakan srategi pemasaran yang direncanakanya secara tepat. Tugas
pimpinan adalah merencanakan strategi pemasaran yang mencangkup strategi
produk, harga, distribusi, dan pemasaran, sehingga strategi tersebut dapat
selaras dan terarah mencapai target. Pimpinan bertugas mengatur dan mengarahkan
pelaksanaan recana strategi dan pengawasanya. Pelaksanaan tugas pimpinan sangat
didukung dari organisasi. Dalam hal ini perpustakaan menjalankan product mix polices, dan strategi lainya
seperti strategi harga, dan promosi haruslah menunjang pelaksanaan strategi
atas, agar target pasar yang ditetapkan dapat dicapai. Dari target pasar yang
ditetapkan maka target tersebut dipecah-pecah menjadi target wilayah yang
mengorganisir tenaga yang ada untuk mencapai target wilayah tersebut. Untuk
memungkinkan pimpinan dapat melaksanakan tugasnya secara efektif, maka
dibutuhkan data/Informasi dari para pakar dan data-data perpustakaan, pimpinan
dapat megambil keputusan yang objektif(Sofjan, 2002:292).
Sebagian
besar informasi yang dibutuhkan dalam bidang pemasaran berada di pasar setelah
itu penetapan tugas dan pemberian wewenang untuk melaksanakan kegiatan
pemasaran. Penentuan tugas dan wewenang baru dilakukan jika kita telah menetuka
secara rinci pekerjaan apa yang perlu dilakukan untuk melaksanakan kegitatan
pemasaran. Setelah itu pekerjaan tersebut dikelompokan kedalam sekelompok
pekerjaan yang hampir sama untuk diberikan wewenang yang dibutuhkan bagi
pelaksanaan pekerjaanya. Selanjutnya adalah kelompok pekerjaan ini dikemplokan
lagi dalam seksi, atau bagian orang yang melaksanakan kegiatan di seksi bagian
tersebut(Sofjan, 2002:293).
|
Informasi pemasaran dan Program keputusan
|
|
Organisasi pemasaran
|
|
Tujuan
|
|
Komunikasi implementasi
|
|
Rencana tujuan organisasi, tujuan pemasaran,
strategi
pemasaran
|
|
Kontrol perbandingan umpan balik
Dengan rencana aksi perbaikan |
Penyusunan organisasi
adalah untuk membedakan suatu tugas dengan tugas lainya sehingga diperoleh
efesiensi yang lebih besar karena dimungkinkanya setiap individu
menspesialisasi dirinya. Alasan kedua yaitu untuk dimungkinkan dilakukanya
koordinasi atas usaha-usaha dan atas tenaga yang ada, sehingga usaha
pengembangan pemasaran dapat efektif karena koordinasinya berada pada satu
tangan. Alasan ketiga adalah untuk menentukan pembatasan tangggung jawab dan
wewenang yang dibutuhkan oleh tenaga-tenaga yang ada untuk melakukan
tugas-tugasnya. Alasan keempat adalah sebagai alat untuk menyonkong strategi perusahaan
secara keseluruhan. Karena organisasi merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Organisasi penyongkong dari strategi pemasaran dalam usaha mencapai tujuan perusahaan
untuk tercapainya tujuan organisasi. Penyusunan organisasi pemasaran perlu
memperhatikan beberapa determinan yang penting yaitu: objective, falsafah,
sikap terhadap pemasaran, jenis dan jumlah produk dan sifat persaingan(Sofjan,
2002:296).
Bagan Organisasi Pemasaran yang Berorientasi Pada Produk
2.5 Bagan Organisasi Pemasaran Yang berorientasi pada Fungsi
Struktur Organisasi Pemasaran
Pemasaran adalah suatu usaha menawarkan dan
mendekatkan produk kepada kosumen yang terjadi berdasarkan asas pertukaran. Pemasaran
jasa Perpustakaan dapat diartikan sebagai upaya mendekatkan dan mempromosikan
jasa yang diselenggarakan perpustakaan demi kepentingan pengguna serta untuk
meningkatkan keefektifan informasi yang dimiliki Perpustakaan. Keberhasilan
pemasaran jasa perpustakaan di tentukan oleh pengelola perpustakaan dalam
memberikan jasa oleh pengguna yang mengakui bahwa jasa perpustakaan dapat
memenuhi dan memuaskan kebutuhan mereka (Santoso, 2007).
Pemasaran sangat relevan dengan
masalah-masalah dan tantangan-tantangan organisasi nir-laba. Tetapi keadanyan
adalah perpustakaan perguruan tinggi adalah bukan sebuah lembaga yang
menghasilkan keuntungan finalsial dari jasa dan produk yang dilayankannya
seperti layaknya sebuah perpustakaan. Namun demikian perpustakaan harus membuat seluruh
masyarakat umum (terutama civitas akademika) mengetahui apa yang ada di
perpustakaan dan kemudian dibujuk untuk “membeli” atau bahkan “memborong” semua
jasa yang tersedia. Apa gunanya? Apa untungnya kalau perpustakaan perguruan
tinggi kemudian menjadi populer? Pertanyaan ini selalu muncul setiap kali
perpustakaan diajak untuk berpromosi. Berikut adalah alasan (kalaupun bukan
keuntungan) mengapa perpustakaan perguruan tinggi harus dipasarkan. Pertama,
perpustakaan perguruan tinggi adalah sumber ilmu dan pengetahuan yang paling
terkelola dan terpilih dan paling dapat dipertanggung jawabkan. Sementara itu
masyarakat kususnya civitas akademika dalam hidupnya dituntut untuk selalu
memiliki ilmu dan pengetahuan, baik untuk kebutuhan kerja, pengambilan
keputusan atau perluasan wawasan saja. Untuk itu perpustakaan harus berusaha
memberitahu masyarakat bahwa ilmu dan pengetahuan yang mereka butuhkan tersedia
dengan lengkap dan terjamin kualitasnya serta dengan mudah dan murah dapat
diakses di perpustakaan. Kedua, kegiatan penyediaan ilmu dan pengetahuan, mulai
dari kegiatan pengumpulan, penyeleksian, pengolahan sampai layanan adalah
kegiatan yang sulit, lama dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyediaan
ini menuntut sebuah tanggung jawab dan kompetensi yang sangat tinggi agar ilmu
dan pengetahuan yang terkemas dalam berbagai macam media dapat tersaji dan
tertata untuk langsung dimanfaatkan. Maka akan menjadi sebuah kegiatan yang
sia-sia dan terbuang percuma ketika semua usaha ini tidak pernah disentuh,
bahkan dimanfaatkan oleh siapapun. Ketiga, masyarakat umum dan pemanfaat tetap
jasa perpustakaan harus mengetahui dan mengenal siapa orang-orang yang mampu
membuat ilmu dan pengetahuan yang bertebaran dimana-mana, dapat terkumpul dan
tersaji dengan sangat akurat di sebuah wadah siap untuk dieksplorasi. Dengan
pengenalan ini maka masyarakat akan mengenal dengan benar setiap peran dan
fungsi dari setiap orang yang terlibat di dalam pengelolaan ilmu dan
pengetahuan di perpustakaan, mulai dari petugas penjaga tas, petugas sirkulasi,
manajer layanan, sampai ke ‘dapur’ dimana ahli pengembangan koleksi pustaka
memulai semuanya. Dengan begitu tidak lagi orang secara sembarangan menamai
siapapun lanjut.Maka semua orang yang berkarya mengelola pengetahuan mendapat
citra yang benar(Santoso, 2007)
Dengan segala kegiatan yang ada di
perpusustakaan, yang kita tahu perpustakaan adalah sebuah lembaga yang
nir-laba, sebuah lembaga yang yang memberikan jasa dan barang kepada konsumen
tetapi tidak menghasilkan keuntungan. Yang menjadi pertanyaan kita dari mana
modal yang didapatkan oleh perpustakaan?. Dengan dukungan dana yang diberikan
oleh perguruan tinggi, Perpustakaan menyediakan koleksi dan jasa layanan yang
kemudian ditawarkan kepada civitas akademi. Perpustakaan menerima anggaran dari
lembaga induknya yang sebagian besar berasal dari biaya pendidikan penerimaan
dari mahasiswa. Meskipun sudah ada ada kepastian bahwa dan akan tetap kita
terima, selama Perpustakaan tidak menyimpang dari kebijakan-kebijakan yang
telah ditetapkan oleh lembaga induknya, orientasi pemasaran menuntut
Perpustakaan untuk selalu menyediakan produk dan jasa yang sesuai dengan
kebutuhan pengguna. Koleksi dan jasa layanan yang bermutu (dari segi pengguna)
akan meningkatkan pemanfaatan Perpustakaan menjadi tolak ukur keberhasilan Perpustakaan
secara keseluruhan dan inilah yang menjadi tujuan utama organisasi. Selain itu
dalam mencapai tujuan organisasi pemasaran di perpustakaan yaitu dilihat dari
analisis, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pengendalian program-program
yang telah dirumuskan secara seksama(Santoso, 2007).
BAB III
PROMOSI PERPUSTAKAN
3.1 Pengertian
Promosi
Promosi
merupakan salah satu bentuk usaha yang dilakukan suatu instansi dalam
memperkenalkan barang dan jasanya kepada masyarakat luas yang bertujuan agar
produk dan jasanya dapat dikenal dan digunakan oleh masyarakat, begitu juga
pada perpustakaan. Perpustakaan dituntut untuk dapat memperkenalkan informasi dan jasa yang mereka
memiliki agar masyarakat dapat memanfaatkan jasa perpustakaan. Menurut Joice
dalam (Syahid, 1989). promosi perpustakaan adalah kegiatan komunikasi pangan
pemakai (users) maupun pemakai yang belum memanfaatkan perpustakaan (non
users). Dengan adanya promosi perpustakaan, pustakawan dapat mengenalkan
perpustakaan dari segi fasilitas, koleksi, dan jenis layanan perpustakaan(Sigit,
1976).
3.1 Tujuan
Promosi
Tujuan promosi perpustakaan adalah
memperkenalkan perpustakaan, koleksi, jenis layanan dan manfaat yang dapat
digunakan oleh pengguna perpustakaan. Dengan adanya peromosi diharapkan
masyarakat mengetahui pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan. Sudariah nasution menyatakan bahwa tujuan
promosi perpustakaan adalah meningkatkan minat baca serta menambah jumlah orang
yang gemar membaca agar koleksi perpustakaan dimanfaatkan semaksimal mungkin (Mustafa,1996:20).
Promosi perpustakaan adalah aktivitas
memperkenalkan perpustakaan dari segi fasilitas, koleksi jenis layanan, dan
manfaat yang dapat diperoleh oleh setiap pemakai perpustakaan secara lebih
terperinci, tujuan promosi perpustakaan adalah:
- Memperkenalkan pentingnya perpustakaan kepada masyarakat.
- Meningkatkan minat baca dan mendorong masyarakat menggunakan fasilitas secara maksimal.
- Memperkenalkan pelayanan dan jasa perpustakaan.
- Mendorong masyarakat agar mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan perpustakaan.
- Menimbulkan kesan untuk meningkatkan minat masyarakat menggunkan perpustakaan.
Menurut Edsall dalam (Mustafa, 1996:20) tujuan
promosi perpustakaan adalah:
1.
Memberikan
kesadaran kepada masyarakat tentang pelayanan perpustakaan.
2.
Mendorong
minat masyarakat agar menggunkan perpustakaan.
3.
Mengembangankan
pengertian masyarakat agar mendukung kegiatan perpustakaan dan peranaya dalam
masyarakat.
Blaise
Cronin berkata bahwa dengan pemasaran dan promosi yang baik ada tiga hal yang
perlu dilakukan menambah kepuasan pemakai, merperkuat atau memperlancar bertambahnya
dana dan meningkatkan kepuasan pengguna(Mustafa, 1996:20).
3.3 Cara-Cara
Promosi
Dalam
pelakasaaan promosi harus dierhatikan pasar yang menjadi sasaran. Di dalam kegiatan promosi saluran
komunikasi adalah garda dalam promosi. Penyampaian berita juga berpengaruh
dalam promosi. Oleh karena itu dalam melakasanakan kegiatan promosi perpustakaan
perlu dibuat program secara baik dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.
Menetapakan
sasaran dan prioritas.
2.
Mentukan
prosedur dan tindakan .
3.
Penyusunan
rencana kerja(Syahid, 1989).
Menurut
Usherword dalam (Mustofa, 1996:27) di dalam melakukan promosi pustakawan perlu
mengetahui prasangka masyarakat dan pelayana perpustakaan ada enam daya tarik
untuk melakukan promosi perpustakaan yaitu:
1.
Daya
tarik sosial. Sesungguhnya semua orang perlu menggunakan perpustakaan.
2.
Daya
tarik prestis. Semua orang yang terbaik menggunakan perpustakaan
3.
Daya
tarik pertahana hidup. Tidak adak orang yang mampu betahan hidup di era modern tampa
menggunakan perpustakaan.
4.
Daya
tarik kesenangan Penggunaan perpustakaan untuk kesenangan dan waktu senggang.
5.
Daya
tarik egomaniak. Pengetahuan dalam kekuatan.
6.
Daya
tarik yang menakuti. Bila tidak menggunakan perpustakaan akan mengalami
kesulitan dalam pekerjaan dan pergaulan.
Pemakai
perpustakaan terdiri dari berbagai individu yang berbeda mereka juga berbeda
dari latar belakang budaya dan pendidikan. Hal ini akan membuat perbedaan
reaksi promosi yang disampaikan maka dari itu kita harus menyesuaiakan sesuai
dengan kelompok masyarakat tersebut. Berbagai cara promosi yang dilakukan
adalah:
a.
Memplubikasikan
brosur, poster dan terbitan lainya.
b.
Memamerkan
bahan bacaan atau koleksi yang menarik.
c.
Memperdengarkan
lagu-lagu dari bahan digital di perpustakaan.
d.
Memutar
film atau bahan pandang dengar.
e.
Bercerita
tentang isi buku terutama pada anak-anak.
f.
Melakuanan
pendidikan pengguna perpustakaan.
g.
Memeberikan
informasi kegitan perpustakaan dan bahan pustaka terbaru
h.
Menciptakan
suasana dan lingkunganya perpustakaan yang nyaman, indah, menyenangkan dan aman
(Mustafa, 1996:27).
BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Perpustakaan membuat tujuan pemasaran
perpustakaan, untuk dapat menetapakan srategi pemasaran yang direncanakanya
mencangkup strategi produk, harga, distribusi, dan pemasaran, sehingga strategi
tersebut dapat selaras dan terarah mencapai target. Pelaksanaan tugas pimpinan
sangat didukung dari organisasi. Dari target pasar yang ditetapkan maka target
tersebut dipecah-pecah menjadi target wilayah yang mengorganisir tenaga. Untuk
memungkinkan pimpinan dapat melaksanakan tugasnya secara efektif, maka
dibutuhkan data/Informasi dari para pakar dan data-data perpustakaan, pimpinan
dapat megambil keputusan yang objektif. Penentuan tugas dan wewenang baru
dilakukan jika kita telah menetuka secara rinci pekerjaan apa yang perlu
dilakukan untuk melaksanakan kegitatan pemasaran.
2. Organisasi pemasaran di perpustakaan berperan dalam
memasarkan, menganalisis, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pengendalikan
program-program yang telah dirumuskan secara seksama. Sehingga Pemasaran
Koleksi dan jasa layanan yang bermutu akan meningkatkan pemanfaatan
Perpustakaan dan menjadi tolak ukur keberhasilan Perpustakaan. Keberhasilan pemasaran jasa
Perpustakaan di tentukan oleh pengelola Perpustakaan dalam memberikan jasa oleh
pengguna yang mengakui bahwa jasa Perpustakaan dapat memenuhi dan memuaskan
kebutuan mereka. Dengan pengenalan ini maka masyarakat
akan mengenal dengan benar setiap peran dan fungsi dari setiap orang yang
terlibat di dalam pengelolaan ilmu dan pengetahuan di perpustakaan.
Daftar Rujukan
Assarji,
Sofjan. 2002. Manajemen Pemasaran Dasar,
Konsep, dan Strategi. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Hal 298-300
Mustafa,
Badollahi.1996. Materi Pokok Promosi Jasa Perpustakaan. Universitas Terbuka:
Jakarta. Hal 20-27
Santoso,
Budhi. 2009. Pemasaran dan Promosi Perpustakaan, (Online), (http://pustaka.uns.ac.id
/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=147), diakses pada 5 September 2014
Sigit, Soehardi. 1976. Marketing Praktis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Syahid,
Nur. 1989. Strategi Pemasaran Jasa Perpustakaan
Perguruan Tinggi, (Online), http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1745/1/06012423.pdf diakses pada 28 Agustus 2014
Raharjo, Arlina Imam. 1996. Strategi Pemasaran
Jasa, (Online), http://pemasaran.wikispaces.com/file/view/strategi+pemasaran+jasa.pdf diakses pada 28 Agustus
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar