PENINGKATAN PERPUSTAKAAN PKK
SEBAGAI
EMBRIO
KESEJAHTERAAN KELUARGA
Oleh
Agnia
Yulia Vanda
Woro
Abidah
Mahasiswa
Program Studi D3 Perpustakaan
Universitas Negeri Malang
Abstrak:
Seiring perkembangan zaman, tugas seorang ibu menjadi
semakin berat. Tidak sekedar melayani suami, mengelola rumah tangga dan
mendidik anak, namun juga harus selalu meningkatkan diri dengan menambah
wawasan dan ketrampilan. Untuk itu, perlu adanya peningkatan perpustakaan
PKK di lingkungan komunitas terkecil.
Dengan membaca, khususnya ibu akan maju
pola pikirnya dan luas wawasannya. Dengan demikian, akan terbentuk iklim
masyarakat yang positif, lahir generasi bangsa yang berkualiatas, dan tercipta
sumberdaya manusia yang tinggi.
PKK adalah gerakan yang tumbuh dari bawah dengan wanita
sebagai motor/penggeraknya untuk membangun keluarga sejahtera sebagai unit atau
kelompok terkecil dalam masyarakat. Pengertian ini secara lengkap telah termasuk dalam Buku Pintar PKK yang bunyinya sebagai berikut :
“PKK adalah
gerakan pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah dengan wanita sebagai
motor penggeraknya untuk membangun keluarga sebagai unit atau kelompok terkecil
dalam masyarakat guna menumbuhkan, menghimpun, mengarahkan, dan membina
keluarga untuk
mewujudkan keluarga sejahtera” Rbsrikandi (2009).
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang
mempunyai arti besar dalam proses pembangunan.
PKK yang merupakan wadah kegiatan ibu-ibu, tidak afdol
bila kurang memperhatikan sektor pendidikan. Dalam kehidupan keluarga, wanita
adalah pengasuh serta pendidik yang utama dan pertama bagi putra-putrinya.
Sedang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, wanita adalah pelahir generasi
penerus Majasari (2014).
Menurut Lusi Kholiq Arief (dalam Rbsrikandi, 2009), Visi Gerakan PKK adalah terwujudnya keluarga
sejahtera untuk menuju masyarakat madani. PKK juga berperan serta dalam mengembangkan
perpustakaan, memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna dan berhasil. Tidak terkecuali, ikut mencerdaskan
kehidupan masyarakat dengan ikut serta dalam gerakan membaca nasional. Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang
keadaan masa depan yang diinginkan.
KENDALA-KENDALA
DALAM PERPUSTAKAAN PKK
Keberadaan
Perpustakaan sangat mendukung kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, seperti
TPQ, Kelompok Yasinan, PKK, Takmir, Kelompok Pengajian, Kelompok Belajar, Kejar
Paket, dll. Masalah mendasar yang muncul adalah kurangnya dana yang memadai
guna mewujudkan fungsi perpustakaan secara komprehensif.
Permasalahan
selain kurangnya dana menurut Sutarno (2008:132)
“Pemerintah dan masyarakat telah banyak berbuat, namun hasilnya seperti yang dirasakan dan
dilihat dalam masyarakat sekali lagi membuktikan bahwa perpustakaan PKK belum berfungsi secara
maksimal. Banyak pihak belum puas atas keberadaan perpustakaan PKK yang pasang surut dan
kembang kempis. Pengalaman pahit yang memberikan pelajaran untuk tidak
mengulang kesalahan masa lalu” Rbsrikandi
(2009).
Menurut Jahja kendala perpustakaan yaitu minat baca di
Indonesia masih rendah karena; 1) Sistem pembelajaran di indonesia belum
mengharuskan peserta didiknya untuk mencari informasi dan pegetahuan selain
yang diajarkan, misalnya mengapresiasi karya sastra, 2) Budaya
membaca belum diwariskan oleh nenek moyang
kita, Kita terbiasa
mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara dikemukakan
orang tua, tokoh masyarakat pada
zaman
dulu tidak terbiasa mencari pengetahuan melalui membaca, 2) Perpustakan dan taman
baca masih dianggap sebagai barang aneh dan langka (Supriyanto, 2006:273).
Tantangan yang
dihadapi untuk meninkatkan perpustakaan menurut
sutarno (2006:134-135) yaitu: 1) Lokasi perpustakaan
kadang sulit terjangkau oleh masyarakat, kondisi alam dapat mempengaruhi minat
masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan,
2) Penduduk dengan berbagai latar belakang pendidikan,
sosial, budaya dan
ekonomi, mata pencaharian dan sebaginya mempengaruhi terhadap cara berfikir dan bertindak
masyarakat termasuk dalam merespons dan menggunakan perpustakaan, misalnya masyarakat
agraris yang familiar dengan alam prilakunya biasanya santai, rileks dan bisa
jadi kurang disiplin, berbeda dengan lingkungan industrialis yang dibiasakan
dengan sikap disiplin baik
dengan pekerjaan maupun dengan kehidupan sehari-hari, hal ini merupakan permasalahan yang harus
diatasi agar semua penduduk dapat memanfaatkan perpustakaan, 3) Pengertian, pemahaman
dan pemaknaan perpustakaan oleh masyarakat yang belum mendarah daging dapat
menyebabkan penyelenggaraan perpustakaan yang kurang efektif. Banyak
perpustakaan yang sudah dibangun namun banyak perpustakaan yang tidak efektif
lagi kaena mereka merasa belum memerlukan perpustakaan, 4) Tingkat pendidikan
masyarakat desa yang masih dibawah standar (Wajib belajar 9-12 tahun) terlebih
lagi sistem pendidikan di Indonesia tidak mewajibkan untuk membaca banyak buku
menjadiakan mereka seolah-olah tidak membutuhkan
perpustakaan.
WAKTU DAN LOKASI KEGIATAN PERPUSTAKAAN PKK
Kegiatan
perpustakaan PKK sebaiknya disesuaikan dengan waktu luang atau tempat berkumpul
anggota PKK, misalnya pada hari sabtu dan minggu kegiatan ini cocok untuk
pengimplikasian perpustakaan PKK mengenai pengembangan budaya anak-anak yang
dibina oleh anggota PKK atau ketika waktu berkumpul
PKK dilaksanakan kegiatan perpustakaan
PKK misalnya pelatihan dan bekerjasama untuk berwirausaha lewat pengaplikasian buku, dll.
Lokasi perpustakaan PKK yang cocok
berada ditempat yang starategis, mudah terjangkau oleh warga dimanapun, dan
sering dilewati oleh warga, sehingga warga akan tahu dan tertarik berkunjung ke
perpustakaan, misalnya ditengah dusun, atau
didekat lembaga pendidikan misalnya TK dan PAUD disana orangtua bisa menunggu
anaknya sambil membaca diperpustakaan, serta dapat mengajarkan anaknya untuk
budaya baca. Lokasi perpustakaan juga bisa di lembaga
kesehatan misanya di posyandu sehingga orang tua bisa menunggu antrian sambil
membaca buku.
TUJUAN DAN MANFAAT PENINGKATAN
PERPUSTAKAAN PKK
Tujuan
peningkatan perpustakaan PKK adalah
: 1) Meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat terutama ibu-ibu, 2) Memberikan wadah bagi ibu-ibu untuk meningkatkan
kemampuan dan ketrampilannya melalui kegiatan membaca, 3) Membantu anak usia
sekolah (SD, SMP, SMA) berupa pinjaman buku pelajaran demi kelancaran kegiatan
belajar di sekolah, 4) Sebagai alternatif tempat rekreasi yang cukup
menyenangkan sekaligus menambah wawasan, 5) Meningkatkan kualitas hidup anggota
PKK dan warga masyarakat pada umumnya, hingga menjadi masyarakat yang sejahtera, 6) Memperkenalkan perpustakaan pada anak-anak sejak
dini sehingga anak gemar membaca dan menulis, 7) Memberi wacana baru bagi warga
yang masih menganggur untuk memilih peluang usaha, 8) Menyediakan informasi up to date untuk menunjang profesi masyarakat Rbsrikandi (2009).
Kartosedono,
Soekarman (1995) menyetakan bahwa
dengan sumber-sumber
informasi dan ilmu pengetahuan,
masyarakat dapat menambah pengetahuan dan wawasan perkembangan alam sekitarnya.
Dengan demikian maka perpustakaan memperoleh fungsi sebagai sarana komuikasi
untuk pendidikan. Perpustakaan
yang
berfungsi sebagai sarana
komunikasi informasi dan pengetahuan hasil budaya manusia, penampilan dan
kinerja perpustakaan akan sangat dipengaruhi oleh irama perkembangan
kebudayaan.
Rbsrikandi
(2009) perpustakaan
dapat membantu warga yang hingga kini masih menganggur akibat PHK. Masyarakat membaca di perpustakaan diharapkan mereka memperoleh
pengetahuan dan ketrampilan yang berguna. Pengetahuan dan ketrampilan yang
diperoleh dapat menjadi ketrampilan hidup bila diterapkan. Bagi sebagian warga yang masih belum tuntas wajar
sembilan tahun mereka dapat belajar mengejar ketertinggalan dengan
mengikuti kejar paket yang bermitra dengan
perpustakaan.
PROGRAM PERPUSTAKAAN PKK
Zuntriana (2011:13-17) mengemukakan bahwa ”Menyelenggarakan program-program perpustakaan
yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat adalah salah satu cara yang bisa
dilakukan. Perpustakaan dapat menghadirkan program-program populer yang mampu
menyatukan pemustaka berdasarkan minat dan hobi,
misalnya dengan membuka
kelas wirausaha, fotografi, jurnalistik, dan
menulis,
dengan mengundang pemateri dari kalangan profesional”. Dari pustakawan
masyarakat diharapkan bisa belajar bagaimana menemukan, mengevaluasi, dan
menggunakan informasi yang penting untuk pengambilan keputusan yang
mempengaruhi sebagian besar aspek kehidupan mereka.
Menurut
Sujono
Perpustakaan
sebagai pusat pembelajaran seumur hidup untuk masyarakat degan melaksanakan
fungsi sebagai saranan pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat diberikan
kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan proses belajar mandiri dalam
pembentukan pribadi, mendapatkan ketrampilan, mengenal berbagai perkembangan
sosial, politik dan kebudayaan yang berkembang di masyarakat maupun dalam perkembangan secara
global. Masyarakat bisa mendapatkan kesempatan untuk menggali potensi-potensi
mereka melalui bahan bacaan yang ada di perpustakaan PKK. Perpustakaan sebagai
wadah yang tepat untuk berkumpul masyarakat untuk memenuhi kebutuhan membaca
mereka, sehingga perpustakaan merupakan tempat yang strategis dan demokratis
yang menyediakan bahan pustaka untuk digunakan sebagai sarana belajar yang
mandiri Supriyanto (2006:141-147).
Menurut Rohinga program meingkatkan
minat baca pada anak-anak dengan story
telling dilaksanakan oleh para
relawan baik dari warga sekitar maupun dari luar daerah dalam membawakan
ceritanya secara termpail, materi ceritanya yang tepat, dalam bercerita
sebaiknya bahasa verbal dan nonverbalya disesuaikan dengan isi cerita, cerita
yang biasaya digemari oleh anak-anak seperti cerita rakyat, legenda dan ilmu
pengetahuan yang dimengerti anak anak (Supriyanto, 2006 :124-125)
Pustakawan
adalah jantungnya perpustakaan. Jadi, maju mundurnya sebuah perpustakaan
tergantung peran dan kreatifitas perpustakaan. Kegiatan pustakawan merupakan
aktifitas yang tidak terlepas dari buku dan budaya baca. Kreatifitas
pustakawan. Vincent giuliano seorang pakar ilmu perpustakaan dari ingggris
menyatakan bahwa para pustakawan hendaknya meninggalkan perpustakaan yang
hendak dijalankan dan mengalihkanya menjadi pusat informasi serta membina
dirinya menjadi’’ information
professionals’’ (Sutoyo, 1995).
Palpermadi
menyatakan bahwa dalam era masyarakat informasi dewasa ini tampak pandangan yang
luas bahwa profesi pustakawan mempunyai kesempatan yang luas untuk menjadi
’manajer’ informasi utama Sumber daya manusia dilatih dengan pengetahuan dasar
dan orientasi perpustakaan. Mereka diminta untuk melaksanakan dan mengelola
perpustakaan sumber
daya manusia dilatih dengan pengetahuan dasar dan orientasi perpustakaan.
Mereka diminta untuk melaksanakan dan mengelola perpustakaan (Sutarno, 2008).
PEMECAHAN
MASALAH
Perpustakaan
PKK berjalan dengan baik kendala-kendala yang harus dihadapi yaitu: 1) Menciptakan
suasana membaca berdasarkan : a) fisik, lokasi yang kondusif dimana bahan
pustaka tertata dengan rapih dan tertur, suasana perpustakaan yang menarik dan
memperhitungkan kenyaman pengguna dalam mengakses informasi, b) Mental, masyarakat
selain dibudayakan gemar membaca juga dilatih bagaimana caranya menerapakan
bahan pusataka di kehidupan sehari-hari bahkan sebagai sarana untuk
mensejahterakan masyarakat, c) Sarana, pusat sumber belajar harus menyediakan
bahan pustaka yang berorientasi dengan penggunanya hal ini dapat dilakukan
dengan melaui pendataan latar belakang pendidikan, sosial, budaya dan
ekonomi, mata pencaharian dan sebaginya
serta potensi alam yang berada di daerah sekitar idealnya selain bahan pustak
berupa cetak juga tersedia bahan pustaka non cetak misalnya video, VCD, DVD,
internet dan koleksi elektronik lainya, serta sarana penunjang lainya yang
dapat menunjang kebutuhan masyarakat di perpustakaan, 2) Menyelenggarkan
berbagai program, dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah seberapa besar
dampak program ini untuk masyarakat, buatlah program yang diminati masyarkat
mulai dari program yang sederhana untuk sebagai media pengembangan hobi
masyarakat misalnya memasak sampai, membuat program untuk dilaksanakan kepada
kehidupan sehari hari, misalnya cara mendidik anak dan mengelola lingkungan
sampai pada pelatihan untuk berwirausaha dengan agenda
yang rutin dan berkelanjutan, agar masyarakat
tebiasa disa dengan membaca buku dapat dibagikan ketika pertemuan PKK untuk dipinjamkan
secara bergantian sehingga bila diwaktu senggang masyarakat bisa membaca buku, 3)Mengadakan
kerjasama antar masyarakat, misalnya penerapan buku untuk berwirausaha dengan
modal dan tenaga kerja secara bersama-sama, kerjasama dengan stik holder untuk
mengadakan pelatihan, bekerjasama dengan pemerintah untuk mengadakan pelatihan
cara mengelolah perpustakaan dengan baik, serta mencari bantuan bahan pustaka,
bekerjasama dengan para relawan, penerbit, dan organisai sosial untuk meminta
bantuan mengenai anggaran untuk meningkatkan perpustakaan PKK, 4) Mengembagkan
jaringan kerja dengan skil mayarakat yang sudah terlatih dapat mencari jaringan
kerja dengan perusahaan atau pasar, 5) Mempromosikan perpustakaan dengan
mengadakan promosi dan publikasi dimasyarakat tersebut, mempromosikan
jenis-jenis bahan pustaka berdasarkan kegunaanya dan cara pemakaian sehingga masyarakat
akan tertarik dan menjadikan membaca sebagai suatu kebutuhan dalan melakukan berbagai kegiatan yang dilaksanakan
di perpustakaan.
Supriyanto,
dkk. (2006:49) Pokok-pokok pemecahan masalah: 1) Edukasi, budaya perlu
ditumbuhkan dan dikenalkan sejak dini mengingat apresiasi terhadap hakiki dan
makna peraturan perundang-undangan, termasuk UU NO.4 Tahun 1990 tentang Karya
Cetak dan Karya Rekam, 2) Sosialisasi, sesungguhnya tidak tepat tatkala UU yang
berusia 16 tahun masih saja diselenggarakan sosialisasi, tetapi apapun namanya
sosialisasi, penerangan, penjelasan kepada pemula atau siapa saja yang belum
tahu perlu tahu, 3) Penegakkan Hukum, dalam penanganan dan pengawasan
bibliografi nasional Indonesia, setidaknya memperoleh prioritas
perhatian/kepedulian, dengan melaksanakan kerjasama yang harmonis dengan
aparatur penegak hukum, 4) Sarana Prasarana, bahwa pengumpulan, penyimpanan,
pelestarian dan pendayagunaan karya cetak dan karya rekam memerlukan gedung dan
prasarana lain yang memadai sesuai dengan kemajuan dan tuntutan teknologi,
sehingga dapat dipergunakan bagi kemaslahatan ilmu pengetahuan baik masa
sekarang maupun masa mendatang.
KESIMPULAN
Gerakan PKK adalah gerakan
yang terwujudnya keluarga sejahtera untuk
menuju masyarakat
madani dalam mewujudkan visi tersebut diperlukan peningkatan perpustakaan PKK. PKK berperan serta dalam mengembangkan
perpustakaan, memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna dan
berhasil.
Kendala
yang dihadapi diperpustakaan adalah kurang mengenalnya dan memaknai
perpustakaan sebagai pusat sumber informasi,
karena sistem pendidikan di Indonesia yang tidak mengharuskan
untuk membaca banyak buku, dan budaya baca yang belum diwariskan oleh nenek
moyang kita menyebabkan minat baca masyarakat masih
rendah. Lokasi
perpustakaan kadang sulit terjangkau oleh masyarakat, penduduk dengan berbagai latar
belakang pendidikan, sosial, budaya dan ekonomi, Mata pencaharian dan sebaginya
menyebabkan perpustakaan harus menjangakau berbagai macam strategi agar
perpustakaan bisa mencangkup semua pengguna.
Kegiatan dan waktu yang sesuai mebuat
meningkatkan animo masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Kegiatan
perpustakaan PKK sebaiknya disesuaikan dengan waktu luang atau tempat berkumpul
anggota PKK. Lokasi perpustakaan PKK yang cocok berada ditempat yang starategis,
mudah terjangkau oleh warga dimanapun, dan sering dilewati oleh warga, sehingga
warga akan tahu dan tertarik berkunjung ke perpustakaan.
Tujuan
peningkatan perpustakaan PKK adalah meningkatkan minat baca dan budaya baca
masyarakat, memberikan wadah bagi ibu-ibu untuk meningkatkan
kemampuan dan ketrampilannya melalui kegiatan membaca, meningkatkan kualitas hidup anggota PKK dan warga
masyarakat pada umumnya, hingga menjadi masyarakat yang sejahtera, memperkenalkan perpustakaan pada anak-anak sejak dini,
dan menyediakan informasi up to date untuk menunjang profesi
masyarakat. Manfaat peningkatan perpustakaan PKK
adalah memberikan sumber-sumber informasi dan ilmu pengetahuan agar masyarakat dapat menambah pengetahuan dan
wawasan perkembangan alam sekitarnya,
dengan demikian maka perpustakaan memperoleh fungsi
sebagai sarana komuikasi untuk pendidikan luar sekolah.
Perpustakaan PKK
menyelenggarakan program-program perpustakaan yang berfokus pada pemberdayaan
masyarakat salah satu cara yang bisa dilakukan berupa menghadirkan
program-program populer yang mampu menyatukan pemustaka berdasarkan minat dan
hobi. Perpustakaan PKK berjalan dengan baik maka
kendala-kendala yang harus dihadapi yaitu
menciptakan suasana membaca berdasarkan
latar belakang masyarakat,
menyelenggarkan berbagai program, dalam hal ini yang
harus diperhatikan adalah seberapa besar dampak program ini untuk masyarakat,
mengadakan kerjasama antar masyarakat,
mengembagkan jaringan kerja dengan skil mayarakat yang
sudah terlatih dan mempromosikan perpustakaan dengan mengadakan promosi dan publikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Kartosedono, Soekarman. 1995. Perpustakaan
Sebagai Lembaga Pendidikan dan Sarana Mencerdaskan Masyarakat dan Bangsa
Majasari, 2014. Pengertian, tujuan, sassaran, dan program PKK. Online, (http://www.majasari.desa.id/2014/03/pengertian-tujuan-sasaran-dan-program.html),
diakses 17 November 2012.
Rbsrikandi, 2009. Gerakan PKK
Dimasa Depan. Online, (http://rbsrikandi.wordpress.cpm/2009/03/01/profil/)
, diakses 17 November 2012.
Supriyanto, dkk. 2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawan.
Jakarta : IPI
Sutarno.2008. Membina Perpustakaan Desa. Jakarta:Sagung Seto
Sutoyo, Agus.1995. Pustakawan, Peningkatan Budaya Baca, dan Era Informasi. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI
Zuntriana. 2011. Perpustakaan
dan Upaya Penguatan Modal Sosial Masyarakat. Malang: Jurnal FKP2T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar