Kamis, 18 Desember 2014

PENINGKATAN PERPUSTAKAAN PKK SEBAGAI EMBRIO KESEJAHTERAAN KELUARGA



­­­­­­­­­­­ PENINGKATAN PERPUSTAKAAN PKK SEBAGAI
EMBRIO KESEJAHTERAAN KELUARGA

Oleh
Agnia Yulia Vanda
Woro Abidah
Mahasiswa Program Studi D3 Perpustakaan Universitas Negeri Malang

Abstrak: Seiring perkembangan zaman, tugas seorang ibu menjadi semakin berat. Tidak sekedar melayani suami, mengelola rumah tangga dan mendidik anak, namun juga harus selalu meningkatkan diri dengan menambah wawasan dan ketrampilan. Untuk itu, perlu adanya peningkatan perpustakaan PKK di lingkungan komunitas terkecil.
Dengan membaca, khususnya ibu akan maju pola pikirnya dan luas wawasannya. Dengan demikian, akan terbentuk iklim masyarakat yang positif, lahir generasi bangsa yang berkualiatas, dan tercipta sumberdaya manusia yang tinggi.
PKK adalah gerakan yang tumbuh dari bawah dengan wanita sebagai motor/penggeraknya untuk membangun keluarga sejahtera sebagai unit atau kelompok terkecil dalam masyarakat. Pengertian ini secara lengkap telah termasuk dalam Buku Pintar PKK yang bunyinya sebagai berikut : “PKK adalah gerakan pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah dengan wanita sebagai motor penggeraknya untuk membangun keluarga sebagai unit atau kelompok terkecil dalam masyarakat guna menumbuhkan, menghimpun, mengarahkan, dan membina keluarga untuk mewujudkan keluarga sejahtera” Rbsrikandi (2009).
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang mempunyai arti besar dalam proses pembangunan. PKK yang merupakan wadah kegiatan ibu-ibu, tidak afdol bila kurang memperhatikan sektor pendidikan. Dalam kehidupan keluarga, wanita adalah pengasuh serta pendidik yang utama dan pertama bagi putra-putrinya. Sedang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, wanita adalah pelahir generasi penerus Majasari (2014).
Menurut Lusi Kholiq Arief (dalam Rbsrikandi, 2009), Visi Gerakan PKK adalah terwujudnya keluarga sejahtera untuk menuju masyarakat madani. PKK juga berperan serta dalam mengembangkan perpustakaan, memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna dan berhasil. Tidak terkecuali, ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat dengan ikut serta dalam gerakan membaca nasional. Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan.
KENDALA-KENDALA DALAM PERPUSTAKAAN PKK
            Keberadaan Perpustakaan sangat mendukung kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, seperti TPQ, Kelompok Yasinan, PKK, Takmir, Kelompok Pengajian, Kelompok Belajar, Kejar Paket, dll. Masalah mendasar yang muncul adalah kurangnya dana yang memadai guna mewujudkan fungsi perpustakaan secara komprehensif.

Permasalahan selain kurangnya dana menurut Sutarno (2008:132) “Pemerintah dan masyarakat telah banyak berbuat, namun hasilnya seperti yang dirasakan dan dilihat dalam masyarakat sekali lagi membuktikan bahwa perpustakaan PKK belum berfungsi secara maksimal. Banyak pihak belum puas atas keberadaan perpustakaan PKK yang pasang surut dan kembang kempis. Pengalaman pahit yang memberikan pelajaran untuk tidak mengulang kesalahan masa lalu” Rbsrikandi (2009).
Menurut Jahja kendala perpustakaan yaitu minat baca di Indonesia masih rendah karena; 1) Sistem pembelajaran di indonesia belum mengharuskan peserta didiknya untuk mencari informasi dan pegetahuan selain yang diajarkan, misalnya mengapresiasi karya sastra, 2) Budaya membaca belum diwariskan oleh nenek moyang kita, Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara dikemukakan orang tua, tokoh masyarakat pada zaman dulu tidak terbiasa mencari pengetahuan melalui membaca, 2) Perpustakan dan taman baca masih dianggap sebagai barang aneh dan langka (Supriyanto, 2006:273).

Tantangan yang dihadapi untuk meninkatkan perpustakaan menurut sutarno (2006:134-135) yaitu: 1) Lokasi perpustakaan kadang sulit terjangkau oleh masyarakat, kondisi alam dapat mempengaruhi minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan, 2) Penduduk dengan berbagai latar belakang pendidikan, sosial, budaya dan ekonomi, mata pencaharian dan sebaginya mempengaruhi terhadap cara berfikir dan bertindak masyarakat termasuk dalam merespons dan menggunakan perpustakaan, misalnya masyarakat agraris yang familiar dengan alam prilakunya biasanya santai, rileks dan bisa jadi kurang disiplin, berbeda dengan lingkungan industrialis yang dibiasakan dengan sikap disiplin baik dengan pekerjaan maupun dengan kehidupan sehari-hari, hal ini merupakan permasalahan yang harus diatasi agar semua penduduk dapat memanfaatkan perpustakaan, 3) Pengertian, pemahaman dan pemaknaan perpustakaan oleh masyarakat yang belum mendarah daging dapat menyebabkan penyelenggaraan perpustakaan yang kurang efektif. Banyak perpustakaan yang sudah dibangun namun banyak perpustakaan yang tidak efektif lagi kaena mereka merasa belum memerlukan perpustakaan, 4) Tingkat pendidikan masyarakat desa yang masih dibawah standar (Wajib belajar 9-12 tahun) terlebih lagi sistem pendidikan di Indonesia tidak mewajibkan untuk membaca banyak buku menjadiakan mereka seolah-olah tidak membutuhkan perpustakaan.

WAKTU DAN LOKASI KEGIATAN PERPUSTAKAAN PKK
Kegiatan perpustakaan PKK sebaiknya disesuaikan dengan waktu luang atau tempat berkumpul anggota PKK, misalnya pada hari sabtu dan minggu kegiatan ini cocok untuk pengimplikasian perpustakaan PKK mengenai pengembangan budaya anak-anak yang dibina oleh anggota PKK atau ketika waktu berkumpul PKK dilaksanakan kegiatan perpustakaan PKK misalnya pelatihan dan bekerjasama untuk berwirausaha lewat pengaplikasian buku, dll.

Lokasi perpustakaan PKK yang cocok berada ditempat yang starategis, mudah terjangkau oleh warga dimanapun, dan sering dilewati oleh warga, sehingga warga akan tahu dan tertarik berkunjung ke perpustakaan, misalnya ditengah dusun, atau didekat lembaga pendidikan misalnya TK dan PAUD disana orangtua bisa menunggu anaknya sambil membaca diperpustakaan, serta dapat mengajarkan anaknya untuk budaya baca. Lokasi perpustakaan juga bisa di lembaga kesehatan misanya di posyandu sehingga orang tua bisa menunggu antrian sambil membaca buku.

TUJUAN DAN MANFAAT PENINGKATAN PERPUSTAKAAN PKK

Tujuan peningkatan perpustakaan PKK adalah : 1) Meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat terutama ibu-ibu, 2) Memberikan wadah bagi ibu-ibu untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya melalui kegiatan membaca, 3) Membantu anak usia sekolah (SD, SMP, SMA) berupa pinjaman buku pelajaran demi kelancaran kegiatan belajar di sekolah, 4) Sebagai alternatif tempat rekreasi yang cukup menyenangkan sekaligus menambah wawasan, 5) Meningkatkan kualitas hidup anggota PKK dan warga masyarakat pada umumnya, hingga menjadi masyarakat yang sejahtera, 6) Memperkenalkan perpustakaan pada anak-anak sejak dini sehingga anak gemar membaca dan menulis, 7) Memberi wacana baru bagi warga yang masih menganggur untuk memilih peluang usaha, 8) Menyediakan informasi up to date untuk menunjang profesi masyarakat Rbsrikandi (2009).

Kartosedono, Soekarman (1995) menyetakan bahwa dengan sumber-sumber informasi dan ilmu pengetahuan, masyarakat dapat menambah pengetahuan dan wawasan perkembangan alam sekitarnya. Dengan demikian maka perpustakaan memperoleh fungsi sebagai sarana komuikasi untuk pendidikan. Perpustakaan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi informasi dan pengetahuan hasil budaya manusia, penampilan dan kinerja perpustakaan akan sangat dipengaruhi oleh irama perkembangan kebudayaan.
Rbsrikandi (2009) perpustakaan  dapat membantu warga yang hingga kini masih menganggur akibat PHK. Masyarakat membaca di perpustakaan diharapkan mereka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang berguna. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dapat menjadi ketrampilan hidup bila diterapkan. Bagi sebagian warga yang masih belum tuntas wajar sembilan tahun mereka dapat belajar mengejar ketertinggalan dengan mengikuti kejar paket yang bermitra dengan perpustakaan.
PROGRAM PERPUSTAKAAN PKK
Zuntriana (2011:13-17) mengemukakan bahwa ”Menyelenggarakan program-program perpustakaan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Perpustakaan dapat menghadirkan program-program populer yang mampu menyatukan pemustaka berdasarkan minat dan hobi, misalnya dengan membuka kelas wirausaha, fotografi, jurnalistik, dan menulis, dengan mengundang pemateri dari kalangan profesional”. Dari pustakawan masyarakat diharapkan bisa belajar bagaimana menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang penting untuk pengambilan keputusan yang mempengaruhi sebagian besar aspek kehidupan mereka.
Menurut Sujono Perpustakaan sebagai pusat pembelajaran seumur hidup untuk masyarakat degan melaksanakan fungsi sebagai saranan pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan proses belajar mandiri dalam pembentukan pribadi, mendapatkan ketrampilan, mengenal berbagai perkembangan sosial, politik dan kebudayaan yang berkembang di masyarakat maupun dalam perkembangan secara global. Masyarakat bisa mendapatkan kesempatan untuk menggali potensi-potensi mereka melalui bahan bacaan yang ada di perpustakaan PKK. Perpustakaan sebagai wadah yang tepat untuk berkumpul masyarakat untuk memenuhi kebutuhan membaca mereka, sehingga perpustakaan merupakan tempat yang strategis dan demokratis yang menyediakan bahan pustaka untuk digunakan sebagai sarana belajar yang mandiri Supriyanto (2006:141-147).

Menurut Rohinga program meingkatkan minat baca pada anak-anak dengan story telling dilaksanakan oleh para relawan baik dari warga sekitar maupun dari luar daerah dalam membawakan ceritanya secara termpail, materi ceritanya yang tepat, dalam bercerita sebaiknya bahasa verbal dan nonverbalya disesuaikan dengan isi cerita, cerita yang biasaya digemari oleh anak-anak seperti cerita rakyat, legenda dan ilmu pengetahuan yang dimengerti anak anak (Supriyanto, 2006 :124-125)

Pustakawan adalah jantungnya perpustakaan. Jadi, maju mundurnya sebuah perpustakaan tergantung peran dan kreatifitas perpustakaan. Kegiatan pustakawan merupakan aktifitas yang tidak terlepas dari buku dan budaya baca. Kreatifitas pustakawan. Vincent giuliano seorang pakar ilmu perpustakaan dari ingggris menyatakan bahwa para pustakawan hendaknya meninggalkan perpustakaan yang hendak dijalankan dan mengalihkanya menjadi pusat informasi serta membina dirinya menjadi’’ information professionals’’ (Sutoyo, 1995).

Palpermadi menyatakan bahwa dalam era masyarakat informasi dewasa ini tampak pandangan yang luas bahwa profesi pustakawan mempunyai kesempatan yang luas untuk menjadi ’manajer’ informasi utama Sumber daya manusia dilatih dengan pengetahuan dasar dan orientasi perpustakaan. Mereka diminta untuk melaksanakan dan mengelola perpustakaan sumber daya manusia dilatih dengan pengetahuan dasar dan orientasi perpustakaan. Mereka diminta untuk melaksanakan dan mengelola perpustakaan (Sutarno, 2008).

PEMECAHAN MASALAH

Perpustakaan PKK berjalan dengan baik kendala-kendala yang harus dihadapi yaitu: 1) Menciptakan suasana membaca berdasarkan : a) fisik, lokasi yang kondusif dimana bahan pustaka tertata dengan rapih dan tertur, suasana perpustakaan yang menarik dan memperhitungkan kenyaman pengguna dalam mengakses informasi, b) Mental, masyarakat selain dibudayakan gemar membaca juga dilatih bagaimana caranya menerapakan bahan pusataka di kehidupan sehari-hari bahkan sebagai sarana untuk mensejahterakan masyarakat, c) Sarana, pusat sumber belajar harus menyediakan bahan pustaka yang berorientasi dengan penggunanya hal ini dapat dilakukan dengan melaui pendataan latar belakang pendidikan, sosial, budaya dan ekonomi, mata pencaharian dan sebaginya serta potensi alam yang berada di daerah sekitar idealnya selain bahan pustak berupa cetak juga tersedia bahan pustaka non cetak misalnya video, VCD, DVD, internet dan koleksi elektronik lainya, serta sarana penunjang lainya yang dapat menunjang kebutuhan masyarakat di perpustakaan, 2) Menyelenggarkan berbagai program, dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah seberapa besar dampak program ini untuk masyarakat, buatlah program yang diminati masyarkat mulai dari program yang sederhana untuk sebagai media pengembangan hobi masyarakat misalnya memasak sampai, membuat program untuk dilaksanakan kepada kehidupan sehari hari, misalnya cara mendidik anak dan mengelola lingkungan sampai pada pelatihan untuk berwirausaha dengan agenda yang rutin dan berkelanjutan, agar masyarakat tebiasa disa dengan membaca buku dapat dibagikan ketika pertemuan PKK untuk dipinjamkan secara bergantian sehingga bila diwaktu senggang masyarakat bisa membaca buku, 3)Mengadakan kerjasama antar masyarakat, misalnya penerapan buku untuk berwirausaha dengan modal dan tenaga kerja secara bersama-sama, kerjasama dengan stik holder untuk mengadakan pelatihan, bekerjasama dengan pemerintah untuk mengadakan pelatihan cara mengelolah perpustakaan dengan baik, serta mencari bantuan bahan pustaka, bekerjasama dengan para relawan, penerbit, dan organisai sosial untuk meminta bantuan mengenai anggaran untuk meningkatkan perpustakaan PKK, 4) Mengembagkan jaringan kerja dengan skil mayarakat yang sudah terlatih dapat mencari jaringan kerja dengan perusahaan atau pasar, 5) Mempromosikan perpustakaan dengan mengadakan promosi dan publikasi dimasyarakat tersebut, mempromosikan jenis-jenis bahan pustaka berdasarkan kegunaanya dan cara pemakaian sehingga masyarakat akan tertarik dan menjadikan membaca sebagai suatu kebutuhan dalan melakukan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di perpustakaan.

Supriyanto, dkk. (2006:49) Pokok-pokok pemecahan masalah: 1) Edukasi, budaya perlu ditumbuhkan dan dikenalkan sejak dini mengingat apresiasi terhadap hakiki dan makna peraturan perundang-undangan, termasuk UU NO.4 Tahun 1990 tentang Karya Cetak dan Karya Rekam, 2) Sosialisasi, sesungguhnya tidak tepat tatkala UU yang berusia 16 tahun masih saja diselenggarakan sosialisasi, tetapi apapun namanya sosialisasi, penerangan, penjelasan kepada pemula atau siapa saja yang belum tahu perlu tahu, 3) Penegakkan Hukum, dalam penanganan dan pengawasan bibliografi nasional Indonesia, setidaknya memperoleh prioritas perhatian/kepedulian, dengan melaksanakan kerjasama yang harmonis dengan aparatur penegak hukum, 4) Sarana Prasarana, bahwa pengumpulan, penyimpanan, pelestarian dan pendayagunaan karya cetak dan karya rekam memerlukan gedung dan prasarana lain yang memadai sesuai dengan kemajuan dan tuntutan teknologi, sehingga dapat dipergunakan bagi kemaslahatan ilmu pengetahuan baik masa sekarang maupun masa mendatang.
KESIMPULAN
Gerakan PKK adalah gerakan yang terwujudnya keluarga sejahtera untuk
menuju masyarakat madani dalam mewujudkan visi tersebut diperlukan peningkatan perpustakaan PKK. PKK berperan serta dalam mengembangkan perpustakaan, memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna dan berhasil.

Kendala yang dihadapi diperpustakaan adalah kurang mengenalnya dan memaknai perpustakaan sebagai pusat sumber informasi, karena sistem pendidikan di Indonesia yang tidak mengharuskan untuk membaca banyak buku, dan budaya baca yang belum diwariskan oleh nenek moyang kita menyebabkan minat baca masyarakat masih rendah. Lokasi perpustakaan kadang sulit terjangkau oleh masyarakat, penduduk dengan berbagai latar belakang pendidikan, sosial, budaya dan ekonomi, Mata pencaharian dan sebaginya menyebabkan perpustakaan harus menjangakau berbagai macam strategi agar perpustakaan bisa mencangkup semua pengguna.

Kegiatan dan waktu yang sesuai mebuat meningkatkan animo masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Kegiatan perpustakaan PKK sebaiknya disesuaikan dengan waktu luang atau tempat berkumpul anggota PKK. Lokasi perpustakaan PKK yang cocok berada ditempat yang starategis, mudah terjangkau oleh warga dimanapun, dan sering dilewati oleh warga, sehingga warga akan tahu dan tertarik berkunjung ke perpustakaan.

Tujuan peningkatan perpustakaan PKK adalah  meningkatkan minat baca dan budaya baca masyarakat, memberikan wadah bagi ibu-ibu untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya melalui kegiatan membaca, meningkatkan kualitas hidup anggota PKK dan warga masyarakat pada umumnya, hingga menjadi masyarakat yang sejahtera, memperkenalkan perpustakaan pada anak-anak sejak dini, dan menyediakan informasi up to date untuk menunjang profesi masyarakat. Manfaat peningkatan perpustakaan PKK adalah memberikan sumber-sumber informasi dan ilmu pengetahuan agar  masyarakat dapat menambah pengetahuan dan wawasan perkembangan alam sekitarnya, dengan demikian maka perpustakaan memperoleh fungsi sebagai sarana komuikasi untuk pendidikan luar sekolah.

Perpustakaan PKK menyelenggarakan program-program perpustakaan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat salah satu cara yang bisa dilakukan berupa menghadirkan program-program populer yang mampu menyatukan pemustaka berdasarkan minat dan hobi. Perpustakaan PKK berjalan dengan baik maka kendala-kendala yang harus dihadapi yaitu menciptakan suasana membaca berdasarkan latar belakang masyarakat, menyelenggarkan berbagai program, dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah seberapa besar dampak program ini untuk masyarakat, mengadakan kerjasama antar masyarakat, mengembagkan jaringan kerja dengan skil mayarakat yang sudah terlatih dan mempromosikan perpustakaan dengan mengadakan promosi dan publikasi.



DAFTAR PUSTAKA

Kartosedono, Soekarman. 1995. Perpustakaan Sebagai Lembaga Pendidikan dan Sarana Mencerdaskan Masyarakat dan Bangsa
Majasari, 2014. Pengertian, tujuan, sassaran, dan program PKK. Online, (http://www.majasari.desa.id/2014/03/pengertian-tujuan-sasaran-dan-program.html), diakses 17 November 2012.
Rbsrikandi, 2009. Gerakan PKK Dimasa Depan. Online, (http://rbsrikandi.wordpress.cpm/2009/03/01/profil/) , diakses 17 November 2012.
Supriyanto, dkk. 2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawan. Jakarta : IPI
Sutarno.2008. Membina Perpustakaan Desa. Jakarta:Sagung Seto
Sutoyo, Agus.1995. Pustakawan, Peningkatan Budaya Baca, dan Era Informasi. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI
Zuntriana. 2011. Perpustakaan dan Upaya Penguatan Modal Sosial Masyarakat. Malang: Jurnal FKP2T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar